Surat Pemberitahuan (SPT) merupakan kewajiban yang harus dilakukan oleh setiap wajib pajak, baik orang pribadi maupun badan. Kewajiban untuk melapor SPT sudah menjadi kewajiban karena diatur dalam undang-undang, sehingga jika tidak melakukannya ataupun telat maka akan dikenakan sanksi administratif sesuai dengan jenis SPT. Lalu bagaimana peraturan terkait batas waktu pembayaran, penyetoran, dan pelaporan pajak?
1. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Orang Pribadi (OP)
a. Batas waktu penyampaian SPT ini paling lama 3 bulan setelah akhir tahun pajak
– Tahun pajak merupakan jangka waktu 1 (satu) tahun kalender. Kecuali wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
– Wajib Pajak Orang Pribadi yang dikecualikan dalam menyampaikan SPT Tahunan adalah mereka yang dalam satu tahun Pajak memiliki penghasilan neto yang tidak melebihi Penghasilan Tidak Kena Pajak (PTKP)
b. Sebelum menyampaikan SPT PPh, Wajib Pajak Orang Pribadi harus melunasi kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh.
2. SPT Tahunan PPh Wajib Pajak Badan
a. Batas waktu penyampaiannya paling lama 4 bulan setelah akhir tahun pajak
– Tahun pajak merupakan jangka waktu 1 (satu) tahun kalender. Kecuali wajib pajak menggunakan tahun buku yang tidak sama dengan tahun kalender.
b. Sebelum menyampaikan SPT PPh, kekurangan pembayaran pajak yang terutang berdasarkan SPT Tahunan PPh harus dilunasi terlebih dahulu
3. SPT Masa
a. Batas waktu penyampaiannya paling lama 20 hari setelah akhir tahun pajak.
b. Menteri Keuangan menentukan tanggal jatuh tempo pembayaran dan penyetoran pajak terutang untuk suatu saat atau Masa Pajak bagi masing-masing jenis pajak, paling lama adalah 15 hari setelah saat terutangnya pajak atau berakhirnya Masa Pajak.
Batas akhir penyetoran PPh masa yaitu tanggal 10 dan tanggal 15 di bulan berikutnya. Tanggal 15 sendiri diperuntukkan bagi bukti setor dan tanggal 10 bagi bukti pemotongan/pemungutan.
c. Tanggal jatuh tempo pembayaran, penyetoran pajak, dan pelaporan pajak untuk SPT Masa:
1. Apabila tanggal jatuh tempo pembayaran pajak pada hari libur termasuk hari sabut atau hari libur nasional, makan pembayaran dilakukan pada hari kerja berikutnya.
2. Apabila tanggal batas akhir pelaporan pada hari libur termasuk hari sabtu atau hari libur nasional, pelaporan dapat dilakukan pada hari kerja berikutnya.
3. Hari libur nasional termasuk hari yang diliburkan untuk penyelenggaraan Pemilihan umum yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah dan cuti bersama secara nasional yang ditetapkan oleh Pemerintah.
4. Batas waktu pembayaran, penyetoran, atau pelaporan pajak untuk SPT masa berdasarkan jenis pajak:
Baca juga Indonesia Anggota FATF, Pelaku Pencucian Uang Spesialis Akan Diawasi Ketat
|
No. |
Jenis Pajak |
Batas Pembayaran |
Batas Pelaporan |
|
(Pasal 2 PMK 242/PMK.03/2014) |
Undang-Undang di bidang perpajakan |
||
|
1. |
PPh pasal 4 ayat (2) setor sendiri |
Tgl 15 bulan berikutnya |
Tgl 20 bulan berikutnya |
|
2. |
PPh pasal 4 ayat (2) pemotongan |
Tgl 10 bulan berikutnya |
|
|
3. |
PPh pasal 15 setor sendiri |
Tgl 15 bulan berikutnya |
|
|
4. |
PPh pasal 15 pemotongan |
Tgl 10 bulan berikutnya |
|
|
5. |
PPh pasal 21 |
Tgl 10 bulan berikutnya |
|
|
6. |
PPh pasal 23/26 |
Tgl 10 bulan berikutnya |
|
|
7. |
PPh pasal 25 |
Tgl 15 bulan berikutnya |
|
|
8. |
PPh pasal 22 impor setor sendiri (dilunasi bersamaan dengan bea masuk, PPN, PPnBM) |
Saat penyelesaian dokumen PIB |
|
|
9. |
PPh pasal 22 impor yang pemungutan oleh Bea Cukai |
1 hari kerja berikutnya |
Hari kerja terakhir minggu berikutnya |
|
10. |
PPh pasal 22 pemungutan oleh bendaharawan |
Hari yang sama dengan pembayaran atas penyerahan barang |
14 hari setelah masa pajak berakhir |
|
11. |
PPh pasal 22 migas |
Tgl 10 bulan berikutnya |
Tgl 20 bulan berikutnya |
|
12. |
PPh pasal 22 pemungutan oleh WP badan tertentu |
||
|
13. |
PPN & PPnBM |
Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir & sebelum SPT masa PPN disampaikan |
Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir |
|
14. |
PPN atas kegiatan membangun sendiri |
Tgl 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakhir |
Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir |
|
15. |
PPN atas pemanfaatan BKP tidak berwujud dan/atau JKP dari Luar Daerah Pabean |
||
|
16. |
PPN & PPnBM Pemungutan Bendaharawan |
Tgl 7 bulan berikutnya |
|
|
17. |
PPN dan/atau PPnBM pemungutan oleh Pejabat Penandatanganan Surat Perintah Membayar sebagi Pemugnut PPN |
Harus disetor pada hari yang sama dengan pelaksanaan pembayaran kepada PKP Rekanan Pemerintah melalui KPPN |
|
|
18. |
PPN & PPnBM pemungutan selain bendaharawan |
Tgl 15 bulan berikutnya setelah Masa Pajak berakkhir |
Akhir bulan berikutnya setelah masa pajak berakhir |
|
19. |
PPh 25 WP kriteria tertentu yang dapat melaporkan beberapa Masa Pajak dalam Satu SPT Masa. (Pasal 3 ayat (3B) UU KUP) |
Harus dibayar paling lama pada akhir Masa Pajak terakhir |
20 hari setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir
|
|
20. |
Pembayaran masa selain PPh 25 WP kriteria tertentu yang dapat melaporkan beberapa Masa Pajak dalam satu SPT Masa (Pasal 3 ayat (3B) UU KUP) |
Harus dibayar paling lama sesuai dengan batas waktu untuk masing-masing jenis pajak |
20 hari setelah berakhirnya Masa Pajak terakhir
|
Baca juga Yuk, Kenali Indirect Tax: Definisi, Jenis, Tarif, Saat Terutang, dan Batas Pelaporan
d. Ketentuan SPT Masa PPh Pasal 25:
1. Terkecualikan dari kewajiban menyampaikan SPT Masa PPh Pasal 25:
– WP OP yang tidak menjalankan usaha atau tidak melakukan pekerjaan bebas.
– WP OP yang dalam satu tahun Pajak menerima atau memperoleh penghasilan neto tidak melebihi PTKP (kepada WP ini juga mendapatkan pengecualian kewajiban dalam menyampaikan SPT Tahunan)
2. Wajib Pajak yang melakukan pembayaran PPh Pasal 25 melalui bank persepsi atau kantor pos persepsi dengan sistem pembayaran secara online dan Surat Setoran Pajak (SSP)-nya sudah mendapatkan validasi dengan Nomor Transaksi Pembayaran Negara (NTPN), maka SPT Masa PPh Pasal 25 dianggap telah disampaikan ke KPP sesuai tanggal validasi yang tercantum di SPP.
Batas waktu pelaporan pajak dan batas waktu pelaporan PPN tersebut diatur dalam PMK-242/PMK.03/2014 dan PMK-243/PMK.03/2014. Perlu diketahui bahwa untuk PMK-243/PMK.03/2014 telah mengalami perubahan dan direvisi menjadi PMK-9/PMK.03/2018 mengenai Surat Pemberitahuan.
Adapun, Sanksi apabila Wajib Pajak terlambat membayar atau melaporkan SPT. Sanksi berupa Denda, berikut penjelasannya :
- Denda telat lapor SPT bagi Wajib Pajak Orang Pribadi yaitu sebesar Rp100.000 per SPT Masa Pajak
- Denda telat lapor SPT bagi Wajib Pajak Badan yaitu sebesar Rp1.000.000 per SPT Tahunan Pajak
- Sanksi administrasi untuk SPT Pajak Pertambahan Nilai (PPN) bagi sebesar Rp500.000 per SPT Masa Pajak dan Rp100.000 per SPT Masa Pajak untuk SPT dengan masa lainnya.
- Denda telat bayar pajak sebesar 2% per bulan dari waktu biaya pajak yang belum dibayarkan. Denda telat bayar pajak memiliki waktu yang dihitung dari sejak tanggal jatuh tempo hingga tanggal pembayaran pajak tersebut. Jika anda terlambat membayar dari batas waktunya maka hitungan bayar dendanya dihitung 1 bulan penuh.









