Sistem Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi di Indonesia menerapkan skema tiering atau lapisan tarif. Artinya, tarif pajak yang dikenakan kepada wajib pajak tidak sama untuk semua tingkat penghasilan, melainkan dibagi berdasarkan kelompok penghasilan tertentu.
Dalam praktik penghitungan PPh Pasal 21, terdapat dua pendekatan tiering yang digunakan, yaitu:
- Tarif progresif Pasal 17 Undang-Undang Pajak Penghasilan
- Tarif Efektif Rata-rata (TER) yang diatur dalam PMK No. 168 Tahun 2023
Keduanya memiliki fungsi yang berbeda. Tarif Pasal 17 digunakan untuk menghitung pajak terutang dalam satu tahun, sedangkan TER digunakan untuk mempermudah pemotongan pajak setiap bulan.
Tiering Pajak Berdasarkan Tarif Progresif Pasal 17
Tarif progresif Pasal 17 merupakan dasar utama dalam sistem Pajak Penghasilan Orang Pribadi di Indonesia. Dalam sistem ini, pajak dihitung berdasarkan lapisan Penghasilan Kena Pajak (PKP). Semakin tinggi penghasilan kena pajak seseorang, maka tarif pajak yang dikenakan pada lapisan berikutnya juga semakin tinggi.
Berikut lapisan tarif progresif Pasal 17:
- 5% untuk penghasilan kena pajak sampai dengan Rp60 juta
- 15% untuk penghasilan di atas Rp60 juta sampai Rp250 juta
- 25% untuk penghasilan di atas Rp250 juta sampai Rp500 juta
- 30% untuk penghasilan di atas Rp500 juta sampai Rp5 miliar
- 35% untuk penghasilan di atas Rp5 miliar
Karakteristik Tarif Progresif Pasal 17
Beberapa hal yang perlu dipahami terkait sistem ini:
- Tiering dihitung berdasarkan Penghasilan Kena Pajak (PKP), bukan penghasilan bruto.
- PKP diperoleh setelah penghasilan dikurangi biaya jabatan, iuran pensiun, dan PTKP.
- Tarif ini digunakan untuk menghitung PPh terutang setahun.
Perhitungan tarif progresif biasanya digunakan dalam masa pajak terakhir (Desember) untuk memastikan total pajak setahun sudah sesuai.
Tiering Pajak Berdasarkan Tarif Efektif Rata-rata (TER)
Untuk menyederhanakan penghitungan PPh Pasal 21 setiap bulan, pemerintah memperkenalkan Tarif Efektif Rata-rata (TER). Melalui skema ini, pemotongan pajak bulanan tidak lagi menggunakan perhitungan PKP yang cukup panjang, tetapi langsung menggunakan tarif efektif dari penghasilan bruto bulanan.
Tiering dalam TER tidak hanya didasarkan pada penghasilan, tetapi juga mempertimbangkan status PTKP wajib pajak.
Baca Juga: Pembayaran dan Pelaporan Pajak: Berapa PTKP Orang Pribadi di 2026?
Kategori TER Berdasarkan Status PTKP
Tarif efektif dibagi menjadi tiga kelompok utama:
1. TER A
Digunakan untuk wajib pajak dengan status PTKP:
- TK/0 dengan PTKP Rp54 juta
- TK/1 dan K/0 dengan PTKP Rp58,5 juta
Berikut rincian selengkapnya:
|
Lapisan Penghasilan Bruto Bulanan |
Tarif TER A |
| ≤ Rp5.400.000 |
0,00% |
| Rp5.400.001 – Rp5.650.000 |
0,25% |
| Rp5.650.001 – Rp5.950.000 |
0,50% |
| Rp5.950.001 – Rp6.300.000 |
0,75% |
| Rp6.300.001 – Rp6.750.000 |
1,00% |
| Rp6.750.001 – Rp7.500.000 |
1,25% |
| Rp7.500.001 – Rp8.550.000 |
1,50% |
| Rp8.550.001 – Rp9.650.000 |
1,75% |
| Rp9.650.001 – Rp10.050.000 |
2,00% |
| Rp10.050.001 – Rp10.350.000 |
2,25% |
| Rp10.350.001 – Rp10.700.000 |
2,50% |
| Rp10.700.001 – Rp11.050.000 |
3,00% |
| Rp11.050.001 – Rp11.600.000 |
3,50% |
| Rp11.600.001 – Rp12.500.000 |
4,00% |
| Rp12.500.001 – Rp13.750.000 |
5,00% |
| Rp13.750.001 – Rp15.100.000 |
6,00% |
| Rp15.100.001 – Rp16.950.000 |
7,00% |
| Rp16.950.001 – Rp19.750.000 |
8,00% |
| Rp19.750.001 – Rp24.150.000 |
9,00% |
| Rp24.150.001 – Rp26.450.000 |
10,00% |
| Rp26.450.001 – Rp28.000.000 |
11,00% |
| Rp28.000.001 – Rp30.050.000 |
12,00% |
| Rp30.050.001 – Rp32.400.000 |
13,00% |
| Rp32.400.001 – Rp35.400.000 |
14,00% |
| Rp35.400.001 – Rp39.100.000 |
15,00% |
| Rp39.100.001 – Rp43.850.000 |
16,00% |
| Rp43.850.001 – Rp47.800.000 |
17,00% |
| Rp47.800.001 – Rp51.400.000 |
18,00% |
| Rp51.400.001 – Rp56.300.000 |
19,00% |
| Rp56.300.001 – Rp62.200.000 |
20,00% |
| Rp62.200.001 – Rp68.600.000 |
21,00% |
| Rp68.600.001 – Rp77.500.000 |
22,00% |
| Rp77.500.001 – Rp89.000.000 |
23,00% |
| Rp89.000.001 – Rp103.000.000 |
24,00% |
| Rp103.000.001 – Rp125.000.000 |
25,00% |
| Rp125.000.001 – Rp157.000.000 |
26,00% |
| Rp157.000.001 – Rp206.000.000 |
27,00% |
| Rp206.000.001 – Rp337.000.000 |
28,00% |
| Rp337.000.001 – Rp454.000.000 |
29,00% |
| Rp454.000.001 – Rp550.000.000 |
30,00% |
| Rp550.000.001 – Rp695.000.000 |
31,00% |
| Rp695.000.001 – Rp910.000.000 |
32,00% |
| Rp910.000.001 – Rp1.400.000.000 |
33,00% |
| > Rp1.400.000.000 |
34,00% |
2. TER B
Digunakan untuk wajib pajak dengan status:
- TK/2 dan K/1 dengan PTKP Rp63 juta
- TK/3 dan K/2 dengan PTKP Rp67,5 juta
Berikut rincian selengkapnya:
|
Lapisan Penghasilan Bruto Bulanan |
Tarif TER B |
| ≤ Rp6.200.000 |
0,00% |
| Rp6.200.001 – Rp6.500.000 |
0,25% |
| Rp6.500.001 – Rp6.850.000 |
0,50% |
| Rp6.850.001 – Rp7.300.000 |
0,75% |
| Rp7.300.001 – Rp9.200.000 |
1,00% |
| Rp9.200.001 – Rp10.750.000 |
1,50% |
| Rp10.750.001 – Rp11.250.000 |
2,00% |
| Rp11.250.001 – Rp11.600.000 |
2,50% |
| Rp11.600.001 – Rp12.600.000 |
3,00% |
| Rp12.600.001 – Rp13.600.000 |
4,00% |
| Rp13.600.001 – Rp14.950.000 |
5,00% |
| Rp14.950.001 – Rp16.400.000 |
6,00% |
| Rp16.400.001 – Rp18.450.000 |
7,00% |
| Rp18.450.001 – Rp21.850.000 |
8,00% |
| Rp21.850.001 – Rp26.000.000 |
9,00% |
| Rp26.000.001 – Rp27.700.000 |
10,00% |
| Rp27.700.001 – Rp29.350.000 |
11,00% |
| Rp29.350.001 – Rp31.450.000 |
12,00% |
| Rp31.450.001 – Rp33.950.000 |
13,00% |
| Rp33.950.001 – Rp37.100.000 |
14,00% |
| Rp37.100.001 – Rp41.100.000 |
15,00% |
| Rp41.100.001 – Rp45.800.000 |
16,00% |
| Rp45.800.001 – Rp49.500.000 |
17,00% |
| Rp49.500.001 – Rp53.800.000 |
18,00% |
| Rp53.800.001 – Rp58.500.000 |
19,00% |
| Rp58.500.001 – Rp64.000.000 |
20,00% |
| Rp64.000.001 – Rp71.000.000 |
21,00% |
| Rp71.000.001 – Rp80.000.000 |
22,00% |
| Rp80.000.001 – Rp93.000.000 |
23,00% |
| Rp93.000.001 – Rp109.000.000 |
24,00% |
| Rp109.000.001 – Rp129.000.000 |
25,00% |
| Rp129.000.001 – Rp163.000.000 |
26,00% |
| Rp163.000.001 – Rp211.000.000 |
27,00% |
| Rp211.000.001 – Rp374.000.000 |
28,00% |
| Rp374.000.001 – Rp459.000.000 |
29,00% |
| Rp459.000.001 – Rp555.000.000 |
30,00% |
| Rp555.000.001 – Rp704.000.000 |
31,00% |
| Rp704.000.001 – Rp957.000.000 |
32,00% |
| Rp957.000.001 – Rp1.405.000.000 |
33,00% |
| > Rp1.405.000.000 |
34,00% |
3. TER C
Digunakan untuk wajib pajak dengan status:
- K/3 dengan PTKP Rp72 juta
Berikut rincian selengkapnya:
|
Lapisan Penghasilan Bruto Bulanan |
Tarif TER C |
| ≤ Rp6.600.000 |
0,00% |
| Rp6.600.001 – Rp6.950.000 |
0,25% |
| Rp6.950.001 – Rp7.350.000 |
0,50% |
| Rp7.350.001 – Rp7.800.000 |
0,75% |
| Rp7.800.001 – Rp8.850.000 |
1,00% |
| Rp8.850.001 – Rp9.800.000 |
1,25% |
| Rp9.800.001 – Rp10.950.000 |
1,50% |
| Rp10.950.001 – Rp11.200.000 |
1,75% |
| Rp11.200.001 – Rp12.050.000 |
2,00% |
| Rp12.050.001 – Rp12.950.000 |
3,00% |
| Rp12.950.001 – Rp14.150.000 |
4,00% |
| Rp14.150.001 – Rp15.550.000 |
5,00% |
| Rp15.550.001 – Rp17.050.000 |
6,00% |
| Rp17.050.001 – Rp19.500.000 |
7,00% |
| Rp19.500.001 – Rp22.700.000 |
8,00% |
| Rp22.700.001 – Rp26.600.000 |
9,00% |
| Rp26.600.001 – Rp28.100.000 |
10,00% |
| Rp28.100.001 – Rp30.100.000 |
11,00% |
| Rp30.100.001 – Rp32.600.000 |
12,00% |
| Rp32.600.001 – Rp35.400.000 |
13,00% |
| Rp35.400.001 – Rp38.900.000 |
14,00% |
| Rp38.900.001 – Rp43.000.000 |
15,00% |
| Rp43.000.001 – Rp47.400.000 |
16,00% |
| Rp47.400.001 – Rp51.200.000 |
17,00% |
| Rp51.200.001 – Rp55.800.000 |
18,00% |
| Rp55.800.001 – Rp60.400.000 |
19,00% |
| Rp60.400.001 – Rp66.700.000 |
20,00% |
| Rp66.700.001 – Rp74.500.000 |
21,00% |
| Rp74.500.001 – Rp83.200.000 |
22,00% |
| Rp83.200.001 – Rp95.600.000 |
23,00% |
| Rp95.600.001 – Rp110.000.000 |
24,00% |
| Rp110.000.001 – Rp134.000.000 |
25,00% |
| Rp134.000.001 – Rp169.000.000 |
26,00% |
| Rp169.000.001 – Rp221.000.000 |
27,00% |
| Rp221.000.001 – Rp390.000.000 |
28,00% |
| Rp390.000.001 – Rp463.000.000 |
29,00% |
| Rp463.000.001 – Rp561.000.000 |
30,00% |
| Rp561.000.001 – Rp709.000.000 |
31,00% |
| Rp709.000.001 – Rp965.000.000 |
32,00% |
| Rp965.000.001 – Rp1.419.000.000 |
33,00% |
| > Rp1.419.000.000 |
34,00% |
Bagaimana Tiering Penghasilan dalam TER?
Dalam sistem TER, tarif pajak langsung dikaitkan dengan penghasilan bruto bulanan. Setiap kelompok penghasilan memiliki tarif efektif tertentu yang meningkat secara bertahap.
Sebagai contoh pada kategori TER A:
- Penghasilan hingga sekitar Rp5,4 juta per bulan dikenakan tarif 0%
- Penghasilan sekitar Rp5,4 juta – Rp5,65 juta dikenakan tarif 0,25%
- Penghasilan sekitar Rp5,65 juta – Rp5,95 juta dikenakan tarif 0,5%
Tarif akan terus meningkat sesuai dengan lapisan penghasilan bruto bulanan dalam tabel TER.
Dengan sistem ini, pemotongan pajak bulanan menjadi lebih praktis karena cukup menggunakan persentase tertentu dari penghasilan bruto bulanan.
Tujuan Penerapan Tarif Efektif Rata-rata (TER)
Penerapan TER bertujuan untuk menyederhanakan proses penghitungan PPh Pasal 21 bagi pemberi kerja maupun wajib pajak. Beberapa tujuan utama penerapan TER, antara lain:
- Menyederhanakan perhitungan pajak bulanan
- Mengurangi risiko kesalahan perhitungan
- Memudahkan pemberi kerja dalam melakukan pemotongan PPh Pasal 21
- Memudahkan pegawai memeriksa kebenaran pajak yang dipotong
Selain itu, sistem ini juga mendukung administrasi perpajakan yang lebih efisien dan akuntabel.
Perbedaan Tiering Tarif Pasal 17 dan TER
Meskipun sama-sama menggunakan sistem lapisan tarif, kedua metode ini memiliki pendekatan yang berbeda.
- Tarif Pasal 17
- Tier berdasarkan Penghasilan Kena Pajak (PKP)
- Digunakan untuk penghitungan pajak setahun
- Menggunakan tarif progresif
- Tarif Efektif Rata-rata (TER)
- Tier berdasarkan penghasilan bruto bulanan
- Mempertimbangkan status PTKP wajib pajak
- Digunakan untuk pemotongan PPh Pasal 21 bulanan
Baca Juga: Lapisan Pajak Penghasilan (PPh) Orang Pribadi Pasca UU HPP
FAQ Seputar Tiering Pajak Penghasilan Orang Pribadi
1. Apa yang dimaksud dengan tiering dalam pajak penghasilan orang pribadi?
Tiering dalam pajak penghasilan adalah sistem pengenaan tarif pajak yang dibagi dalam beberapa lapisan penghasilan. Semakin tinggi penghasilan wajib pajak, semakin tinggi tarif pajak yang dikenakan pada lapisan penghasilan berikutnya.
2. Apa perbedaan tarif progresif Pasal 17 dengan Tarif Efektif Rata-rata (TER)?
Perbedaan utamanya terletak pada dasar penghitungan tarifnya. Tarif progresif Pasal 17 dihitung berdasarkan Penghasilan Kena Pajak (PKP) dan digunakan untuk menghitung pajak terutang dalam satu tahun. Sementara itu, TER digunakan untuk pemotongan PPh Pasal 21 setiap bulan dengan dasar penghasilan bruto bulanan dan status PTKP.
3. Mengapa pemerintah menerapkan Tarif Efektif Rata-rata (TER)?
Pemerintah menerapkan TER untuk menyederhanakan perhitungan PPh Pasal 21 bulanan. Dengan adanya tabel tarif efektif, pemberi kerja dapat langsung menghitung pajak berdasarkan penghasilan bruto tanpa harus melakukan perhitungan PKP yang lebih kompleks.
4. Apakah penggunaan TER membuat pajak yang dibayar menjadi lebih besar?
Tidak. Penggunaan TER tidak menambah beban pajak baru bagi wajib pajak. Perhitungan pajak tahunan tetap menggunakan tarif progresif Pasal 17, sehingga total pajak yang dibayar dalam satu tahun tetap sama seperti ketentuan sebelumnya.
5. Siapa saja yang menggunakan skema Tarif Efektif Rata-rata (TER)?
TER umumnya digunakan oleh pemberi kerja untuk menghitung pemotongan PPh Pasal 21 bulanan bagi pegawai tetap. Tarif yang digunakan akan disesuaikan dengan kategori TER A, TER B, atau TER C, tergantung pada status PTKP dan besaran penghasilan bruto bulanan pegawai.







