Di tengan eskalasi tensi geopolitik, pertumbuhan ekonomi Indonesia diprediksi tidak akan terlalu terdampak. Hal ini disampaikan oleh Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) Eko Listiyanto. Menurut Eko, proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia akan tetap kuat di level 5% pada tahun ini meskipun tensi geopolitik kian memanas.
Eko menyatakan saat ini ekonomi Indonesia tidak hanya bergantung pada kondisi internasional, namun didominasi juga oleh aktivitas dalam negeri. Eko mengungkapkan keyakinannya jika dampak eskalasi konflik tidak terlali tarasa pda sektor riil dan yakin masih akan mampu utmbuh 4,5% hingga 5%.
Indonesia cukup berpengalaman menghadapi eskalasi geopilik dunia dalam beberapa kesempatan. Seperti ketika ketegangan geopolitik antara Rusia dan Ukraina yang terjadi medio 2022 lalu yang memperlihatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia tetap tumbuh di atas 5%.
Dari kondisi tersebut, Eko mengungkapkan Indonesia mampu bertahan di tengah gejolak konflik yang memengaruhi ekonomi di dalam negeri. Oleh karena itu, Eko pun yakin ekonomi Indonesia akan mampu bertahan di level 5% dengan gejolak Internasional antara Iran dan Israel.
Baca juga: Dampak Serangan Iran ke Israel Terhadap Perekonomian Indonesia
Akan tetapi, Eko meminta pemerintah untuk tetap waspada terhadap gejolak geopolitik internasional. Mengingat konflik internasional belum dapat dipastikan kapan akan berakhir. Jika konflik yang terjadi berlangsung dalam waktu yang cukup lama, pemerintah perlu menyiapkan langkah antisipasi agar perekonomian dalam negeri tidak tergerus.
Mengenai pertanyaan apakah nantinya di Indonesia akan terjadi resesi, Eko menyatakan keraguannya Indonesia akan sampai di titik tersebut. Eko yakin dengan menjaga konsumsi dan produksi terutama kaitannya dengan industri sebagai leading sector, Indonesia tidak akan sampai resesi.
Dosen Universitas Paramadina, Wijayanto Samirin menyatakan pemerintah perlu untuk tetap menyiapkan skenario jika konflik terjadi dalam jangka waktu yang lama. Jika hal tersebut terjadi, yang dikhawatirkan adalah terhambatnya arus investasi dan melemahnya rupiah.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyatakan kenaikan suku bunga yang menyebabkan peningkatan biaya pinjaman mengakibatkan ekonomi global semakin tertekan. Kondisi tersebut diperparah dengan tekanan baru yang muncul terhadap utang. Hal itu juga dialami oleh beberapa negara berkembang dan berpendapatan rendah.
Baca juga: Target Pertumbuhan Ekonomi dan Tax Ratio dalam RPJMN 2025-2029 dan RKP 2025
Sebagai informasi, di tahun terakhir pemerintahan Presiden Joko Widodo, pertumbuhan ekonomi ditargetkan tumbuh sebesar 5,2 % secara year on year, lebih tinggi dari realisasi tahun 2023 lalu yang hanya sebesar 5,05%. Target ini juga didukung dengan prediksi beberapa lembaga internasional yang memprediksi ekonomi Indonesia mampu tumbuh 5% serta bertahan di level yang sama setidaknya hingga tahun 2025 mendatang.
Baca juga Berita dan Artikel Pajakku lainnya di Google News









