Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati bertemu dengan jajaran lembaga pemeringkat kredit Fitch Ratings. Sri Mulyani pun memanfaatkan kesempatan ini untuk menjelaskan kinerja APBN 2023. Menurutnya, kinerja perekonomian Indonesia tidak segelap proyeksi di berbagai lembaga internasional.
Melalui Instagramnya @smindrawati, ia menyebutkan kinerja indonesia sendiri dan APBN di tahun 2023 dapat dikatakan baik. Terdapat banyak capaian positif yang tidak dapat diprediksikan pada saat awal merancang APBN 2023.
Sri Mulyani menyebutkan banyak lembaga internasional yang memperkirakan 2023 akan menjadi tahun yang gelap dan berpotensi menimbulkan resesi. Namun, proyeksi ini pada akhirnya tidak terbukti walaupun situasi global tetap penuh dengan guncangan.
Baca juga: Sri Mulyani Sebut APBN Defisit Rp35 Triliun Hingga 12 Desember 2023
Ia pun menjelaskan kinerja APBN 2023 ini lebih baik dasri rencana awal. Hal ini tercermin dari penerimaan negara yang tumbuh positif, kondisi keseimbangan primer yang mengalami surplus setelah sekian tahun, belanja negara yang optimal mendukung berbagai program prioritas nasional, dan defisit APBN yang jauh lebih rendah dari desain awal.
Pendapatan negara di 2023 pun mencapai Rp2.774,3 triliun atau tumbuh hingga 5,3%. Realisasi ini setara dengan 112,6% dari target awal atau 105,2% dari target yang direvisi melalui Perpres 75/2023. Utamanya, pendapatan negara ditopang oleh penerimaan perpajakan sebesar Rp2.155,4 triliun. Penerimaan ini terdiri atas pajak senilai Rp1.869,2 triliun serta kepabeanan dan cukai sebesar Rp286,2 triliun. Adapun, realisasi Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP) mencapai Rp605,9 triliun.
Baca juga: DPR Resmi Sahkan RUU APBN 2024 Menjadi UU
Di sisi lain, realisasi belanja yang senilai Rp3.121,9 triliun terdiri atas belanja pemerintah pusat Rp2.240,6 triliun dan transfer ke daerah mencapai Rp881,3 triliun. Dengan kinerja ini, APBN 2023 mengalami defisit Rp347,6 triliun atau 1,65% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
Angka ini disebut jauh di bawah target awal defisit Rp698,2 triliun atau 2,84% PDB serta yang direvisi menjadi Rp479,9 triliun atau 2,27% PDB. Sementara itu, keseimbangan primer mengalami surplus untuk pertama kalinya sejak 2012 yaitu Rp92,2 triliun. Oleh karena itu, Sri Mulyani menyebutkan tahun 2023 cukup luar biasa dari berbagai hal.
Kemudian, pada September 2023, lembaga pemeringkat Fitch Ratings pun kembali mempertahankan perangkat utang Indonesia pada level BBB atau investment grade dengan outlook stabil. Fitch juga mengapresiasi defisit fiskal yang kembali ke tingkat sebelum pandemi pada 2022.









