Sama-Sama Ubah Angka pada Mata Uang, Ini Perbedaan Redenominasi dan Sanering

Seiring dengan mencuatnya wacana redenominasi, tak sedikit pula masyarakat yang menyalahartikannya sebagai sanering. Keduanya memang sama-sama melibatkan perubahan angka pada mata uang, namun dampaknya sangat berbeda. 

Kebingungan di tengah masyarakat itu bahkan membuat Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo buka suara. Ia menegaskan bahwa proses penyederhanaan digit rupiah tidak akan mengubah harga barang

Redenominasi itu bukan sanering, bukan pemotongan,” tegasnya, dikutip pada Rabu (19/11/2025). 

Lantas, apa yang sebenarnya dimaksud dengan redenominasi dan sanering? Agar tidak salah paham, artikel ini akan menguraikan perbedaan redenominasi dan sanering, termasuk tujuan, dampak, serta kondisi ekonomi yang melatarbelakanginya. 

Apa Itu Redenominasi? 

Redenominasi adalah penyederhanaan nilai mata uang dengan cara mengurangi digit nol, tanpa mengubah daya beli masyarakat. Ini berarti, perubahan hanya terjadi pada penulisan nominal, bukan pada nilai ekonominya. 

Contoh : 

  • Sebelum redenominasi: Rp25.000 
  • Sesudah redenominasi: Rp25 

Berdasarkan perubahan tersebut, harga barang juga ikut disesuaikan sehingga nilainya tetap sama. Misalnya saja, kopi yang sebelumnya Rp25.000 akan menjadi Rp100 dalam format baru, tanpa mengubah daya beli konsumen. 

Perry Warjiyo juga menegaskan hal tersebut saat rapat bersama Komite IV DPD RI. Ia menjelaskan, masyarakat tetap bisa membeli kopi yang sama baik dengan uang lama (Rp25.000) maupun uang baru (Rp25), selama masa transisi.  

Proses transisi ini diperkirakan memerlukan waktu 5–6 tahun setelah Undang-Undang Redenominasi disahkan. Terkait penerapannya, berbagai penelitian telah menunjukkan bahwa redenominasi dilakukan saat kondisi ekonomi stabil, inflasi terkendali, serta kepercayaan publik terhadap mata uang kuat. 

Penelitian Arsyad (2023) dan Annazah dkk (2018) menegaskan bahwa kebijakan ini dapat meningkatkan efisiensi transaksi dan memperkuat citra mata uang di mata internasional. Selain itu, redenominasi juga dimaksudkan untuk: 

  • menyederhanakan transaksi harian, 
  • mempermudah pencatatan akuntansi, 
  • meningkatkan efisiensi sistem pembayaran, 
  • memperkuat persepsi stabilitas mata uang. 

Baca Juga: Wacana Redenominasi Rupiah Kembali Menguat, Begini Penjelasannya

Apa Itu Sanering? 

Berbeda dengan redenominasi, sanering adalah pemotongan nilai mata uang secara riil, yang berarti daya beli masyarakat akan langsung turun. Harga barang tidak ikut disesuaikan, sehingga nilai uang lama menjadi jauh lebih kecil. 

Contoh: 

  • Sebelum sanering: Rp100.000 bisa membeli satu barang 
  • Setelah sanering: uang tersebut mungkin hanya bernilai Rp100, sementara harga barang tidak berubah 

Sanering biasanya dilakukan saat negara mengalami krisis ekonomi berat atau hiperinflasi. Menurut Turambi (2015), kebijakan ini sering menimbulkan dampak sosial-psikologis seperti kepanikan dan hilangnya kepercayaan publik. 

Perbedaan Redenominasi dan Sanering 

1. Dampak terhadap Daya Beli 

  • Redenominasi: tidak mengubah daya beli. Hanya angka nol yang dipangkas. 
  • Sanering: menurunkan daya beli secara signifikan karena nilai uang dipotong tanpa penyesuaian harga barang. 

2. Tujuan Kebijakan 

  • Redenominasi: meningkatkan efisiensi transaksi dan memperkuat persepsi stabilitas ekonomi. 
  • Sanering: mengendalikan krisis atau hiperinflasi yang tidak terkendali. 

3. Kondisi Ekonomi saat Diterapkan 

  • Redenominasi: ekonomi sehat, inflasi stabil, dan kepercayaan publik tinggi. 
  • Sanering: ekonomi krisis, inflasi ekstrem, dan ketidakmampuan pemerintah menjaga stabilitas. 

4. Proses Pelaksanaan 

  • Redenominasi: dilakukan bertahap, transparan, dan melalui masa transisi yang cukup panjang (diperkirakan 5–6 tahun setelah UU disahkan). 
  • Sanering: biasanya diumumkan secara mendadak tanpa sosialisasi karena bersifat darurat. 

5. Persepsi Publik 

  • Redenominasi: cenderung positif karena tidak merugikan masyarakat. 
  • Sanering: menimbulkan trauma dan ketidakpercayaan karena menggerus nilai uang. 

Ringkasnya, berikut tabel perbedaan redenominasi dan sanering: 

Aspek 

Redenominasi 

Sanering 

Definisi  Penyederhanaan nominal mata uang dengan mengurangi digit nol tanpa mengubah nilai riil Pemotongan nilai uang secara riil sehingga daya beli menurun. 
Dampak terhadap Daya Beli  Tidak ada perubahan daya beli; nilai barang ikut disesuaikan.  Daya beli turun drastis karena harga barang tidak ikut disesuaikan. 
Tujuan  Meningkatkan efisiensi transaksi, mempermudah pencatatan, memperkuat persepsi stabilitas ekonomi.  Menekan inflasi ekstrem atau mengatasi krisis ekonomi yang parah. 
Kondisi Ekonomi saat Diterapkan  Stabil, inflasi rendah, kepercayaan publik tinggi.  Krisis, hiperinflasi, ketidakmampuan negara menjaga stabilitas ekonomi. 
Proses Pelaksanaan  Bertahap, transparan, melalui masa transisi yang panjang (5–6 tahun).  Tiba-tiba atau mendadak, biasanya tanpa sosialisasi. 
Perubahan Nominal  Hanya mengurangi digit nol; nilai riil tetap sama.  Nominal dan nilai riil sama-sama disesuaikan sehingga uang bernilai lebih rendah. 
Dampak ke Masyarakat  Tidak merugikan masyarakat secara langsung.  Merugikan masyarakat karena nilai uang menyusut. 
Persepsi Publik  Umumnya positif karena tidak mengubah daya beli.  Negatif dan penuh trauma karena menggerus nilai uang. 
Sifat Kebijakan  Administratif, jangka panjang.  Darurat, reaktif terhadap krisis. 

Baca Juga: Dasar Pengenaan Pajak dalam Transaksi Mata Uang Asing

Pelajaran dari Masa Lalu 

Indonesia sendiri pernah mengalami sanering pada tahun 1950, 1959, dan 1965. Pada masa itu, pemotongan nilai rupiah membuat masyarakat kehilangan sebagian besar kekayaan finansialnya. 

Ambil peristiwa pada 1965 sebagai contoh. Kala itu, uang rakyat turun nilainya 1.000:1 secara mendadak. Pengalaman ini sontak membuat masyarakat mudah khawatir begitu mendengar wacana pemotongan digit rupiah. 

Sebaliknya, banyak negara berhasil melakukan redenominasi dengan hasil positif, misalnya: 

  • Turki (2005) – menghapus enam nol dari Lira, 
  • Polandia (1995) – menyederhanakan Zloty, 
  • Romania (2005) – memotong empat digit dan meningkatkan kepercayaan publik. 

Kuncinya adalah kondisi ekonomi stabil dan komunikasi publik yang efektif. 

FAQ Seputar Perbedaan Redenominasi dan Sanering 

1. Apa perbedaan paling sederhana antara redenominasi dan sanering? 

Redenominasi hanya memangkas angka nol tanpa mengubah daya beli, sedangkan sanering memotong angka sekaligus menurunkan nilai uang. 

2. Apakah redenominasi membuat harga barang turun? 

Tidak. Penulisannya saja yang berubah, daya beli tetap sama. 

3. Untuk apa redenominasi dilakukan? 

Untuk menyederhanakan transaksi, memperkuat persepsi stabilitas rupiah, serta meningkatkan efisiensi pembayaran dan akuntansi. 

4. Siapa yang berwenang memutuskan redenominasi? 

Bank Indonesia sebagai bank sentral, dengan persetujuan pemerintah dan DPR. 

Baca Juga Berita dan Artikel Pajakku Lainnya di Google News