Kebijakan debt switching yang dijalankan pemerintah bersama Bank Indonesia (BI) menjadi salah satu strategi dalam pengelolaan utang negara di tengah tekanan fiskal. Meski berpotensi membantu menata struktur pembiayaan, kebijakan ini juga menyimpan risiko pasar yang perlu dicermati agar tidak menimbulkan dampak lanjutan terhadap stabilitas keuangan.
Apa Itu Debt Switching?
Debt switching merupakan strategi pengelolaan utang dengan cara menukar Surat Berharga Negara (SBN) yang telah diterbitkan dengan seri SBN lainnya. Tujuan utama kebijakan ini bukan untuk menghapus utang, melainkan untuk memperbaiki struktur utang dan mengelola risiko jatuh tempo.
Secara umum, debt switching bertujuan untuk:
- Mengurangi penumpukan jatuh tempo utang dalam satu periode tertentu
- Menjaga stabilitas kebutuhan kas pemerintah
- Menata kembali struktur utang agar lebih efisien
Risiko Pasar yang Perlu Diantisipasi
Sebagaimana diberitakan Kontan.co.id, Kepala Ekonom Permata Bank, Josua Pardede, menilai risiko pasar dapat muncul apabila kebijakan debt switching diterapkan secara agresif tanpa kerangka dan komunikasi yang jelas. Dalam kondisi tersebut, pasar dapat menafsirkan kebijakan ini sebagai sinyal meningkatnya ketergantungan pembiayaan pemerintah terhadap bank sentral.
Beberapa risiko pasar yang berpotensi muncul, antara lain:
- Meningkatnya premi risiko, yang berdampak pada naiknya biaya utang
- Persepsi negatif investor, terutama jika kebijakan dinilai tidak berbasis mekanisme pasar
- Volatilitas imbal hasil SBN, akibat tingginya sensitivitas pasar terhadap sinyal kebijakan
Baca Juga: Utang Luar Negeri Indonesia Turun pada November 2025, Ini Rinciannya
Dampak terhadap Beban Bunga Utang
Debt switching tidak selalu berdampak positif terhadap beban bunga utang negara. Dampaknya sangat bergantung pada kondisi saat penukaran dilakukan serta seri SBN yang ditukar.
Potensi dampak kebijakan ini meliputi:
- Menurunkan beban bunga, jika pemerintah menukar SBN berkupon tinggi dengan seri yang lebih efisien
- Meningkatkan beban bunga, apabila penukaran dilakukan saat imbal hasil sedang tinggi atau tenor utang diperpanjang terlalu lama
Karena itu, evaluasi kebijakan sebaiknya tidak hanya melihat nilai nominal penukaran, tetapi juga dampaknya terhadap biaya utang secara keseluruhan.
Peran Transparansi dan Komunikasi Kebijakan
Respons pasar terhadap debt switching sangat dipengaruhi oleh transparansi dan konsistensi kebijakan. Pasar cenderung merespons positif apabila langkah ini:
- Dilakukan secara terbuka dan terukur
- Berbasis mekanisme pasar
- Sejalan dengan agenda pendalaman pasar keuangan
Pergerakan imbal hasil SBN tenor 10 tahun yang sempat turun pada akhir 2025 menunjukkan kepercayaan investor masih terjaga. Namun, kenaikan imbal hasil pada awal 2026 menandakan bahwa sensitivitas pasar tetap tinggi, sehingga komunikasi kebijakan menjadi faktor kunci.
Debt Switching di Tengah Tekanan Fiskal
Di tengah defisit APBN 2025 yang mencapai Rp695,1 triliun dan keseimbangan primer yang masih negatif, kebutuhan pembiayaan pemerintah pada 2026 mencakup defisit anggaran sekaligus pembayaran utang jatuh tempo. Dalam kondisi ini, debt switching dapat menjadi instrumen manajemen risiko yang relevan.
Namun, agar tidak memicu risiko pasar, pemerintah dan BI perlu:
- Menetapkan batasan dan tujuan kebijakan yang jelas
- Menjadikan debt switching sebagai alat pengelolaan risiko, bukan solusi jangka pendek menutup defisit
- Melakukan evaluasi berkala atas dampaknya terhadap biaya dan profil utang
Dengan pengelolaan yang hati-hati, kebijakan debt switching diharapkan dapat mendukung stabilitas fiskal tanpa mengorbankan kepercayaan pasar.
Baca Juga: Apa yang Terjadi jika Penerimaan Pajak Tak Penuhi Target? Ini Kata Ahli!
FAQ Seputar Risiko Pasar di Balik Kebijakan Debt Switching
1. Apa yang dimaksud dengan debt switching?
Debt switching adalah strategi pengelolaan utang dengan menukar Surat Berharga Negara (SBN) yang ada dengan seri SBN lain untuk mengatur ulang jadwal jatuh tempo dan struktur utang.
2. Apakah debt switching dapat menghapus utang negara?
Tidak. Debt switching tidak menghapus utang, melainkan hanya mengubah bentuk, tenor, atau seri utang agar pengelolaannya lebih terkendali.
3. Mengapa kebijakan debt switching berisiko bagi pasar?
Risiko muncul jika kebijakan ini dinilai terlalu agresif atau kurang transparan, sehingga pasar menilai adanya peningkatan ketergantungan pemerintah pada pembiayaan bank sentral.
4. Bagaimana dampak debt switching terhadap beban bunga utang?
Dampaknya bergantung pada kondisi pasar dan seri SBN yang ditukar. Kebijakan ini bisa menurunkan atau justru meningkatkan beban bunga jika tidak dilakukan pada waktu yang tepat.
5. Apa yang perlu dilakukan agar debt switching tidak memicu sentimen negatif pasar?
Pemerintah dan BI perlu memastikan kebijakan dilakukan secara transparan, berbasis mekanisme pasar, serta disertai komunikasi yang jelas dan evaluasi berkala.









