Badan Perencanaan Pembangunan Nasional (Bappenas) memperkirakan terdapat nilai potensi kerugian ekonomi akibat perubahan iklim yang mencapai hingga Rp544 Triliun selama 2020 hingga 2024.
Kepala Bappenas Suharso Monoarfa menyebutkan bahwa perubahan iklim ini mendatangkan berbagai kerugian pada Indonesia. Oleh karena itu, pemerintah harus memprioritaskan penanganan ancaman triple planetary crisis seperti perubahan iklim, polusi, dan hilangnya keanekaragaman hayati.
Ia mengatakan bahwa perubahan iklim menjadi nyata dirasakan oleh Indonesia. Kerugian ekonomi dari bencana ini didominasi bencana hidrometeorologi diestimasi hingga Rp22,8 triliun per tahun dan menimbulkan korban jiwa 1.183 orang selama 10 tahun terakhir.
Baca juga: Ketahui Cara Impor Dokumen Harta dan Utang SPT Tahunan di e-Form
Suharso menyebutkan pemerintah Indonesia telah menyusun kebijakan pembangunan berketahanan iklim (PBI) guna mencegah potensi kerugian pada empat sektor prioritas yaitu pertanian, kesehatan, perairan, serta pesisir dan laut. PBI ini pun telah sejalan dengan amanat RPJMN 2020-2024.
Ia pun menjelaskan bahwa Integorvenmental Panel on Climate change (IPCC) menyebutkan bahwa suhu permukaan global telah meningkat lebih dari 1,09 derajat celcius dibandingkan periode 1850-1900. Suhu bumi ini pun diprediksi akan selalu meningkat akibat pelepasan gas rumah kaca ke atmosfer.
Apabila peningkatan suhu global rata-rata mencapai hingga 1,5 derajat celcius, maka sektor perairan dan pertanian akan terdampak. Distribusi dan intensitas curah hujan yang ekstrem akan berpotensi banjir dan kekeringan hingga mengancam ekosistem pesisir dan laut.
Baca juga: Importir Tidak Mendapatkan Izin Barang Lartas, Apa Yang Harus Dilakukan?
Peningtan suhu bumi ini dapat menimbulkan tergenangnya wilayah pesisir, terjadi kemarau panjang, penurunan produksi pertanian, penurunan pasokan air bersih, gagal panen total atau puso, dan menyebabkan krisis pangan di Indonesia.
Suharso menyatakan bahwa Bappenas telah menyusun strategi ketahanan iklim dalam dokumen RPJPN 2025-2045. Adapun, fokus strateginya ialah teknologi, tata kelola dan pendanaan, penguatan ketahanan infrastruktur, serta meningkatkan peran masyarakat.
Ia mengatakan, peningkatan resiliensi pada perubahan iklim ini akan mempengaruhi kapasitas dalam mencapai target Indonesia Emas 2045. Oleh karena itu, Indonesia perlu memperkuat basis pengetahuan melalui pengembangan teknologi, kegiatan riset, dan inovasi terkait perubahan iklim dan dampaknya, guna berbagai kebijakan dapat disusun berbasis bukti atau evidence based policy.









