Pemerintah telah mencatat kinerja pengeluaran konsumsi pemerintah mengalami penurunan sebesar 3,76% di kuartal III/2023. Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati telah menyebutkan bahwa kontraksi konsumsi pemerintah pada kuartal III/2023 yang dilatarbelakangi oleh faktor musiman. Menurutnya, konsumsi pemerintah dapat kembali bertumbuh pesat di kuartal IV/2023.
Sri Mulyani mengatakan, beberapa dari belanja ini baru terealisasi pada kuartal IV/2023. Sebelumnya, ia sudah menghitung dari postur dan masih ada Rp1.078 triliun pada APBN untuk 3 bulan terakhir. Dari sisi pendapatan negara, Sri Mulyani menyebutkan pemerintah akan mengumpulkan penerimaan negara baik dari pajak ataupun selain pajak hingga Rp650 triliun.
Ia menjelaskan, sehingga net spending atau ekspansi APBN diharapkan akan menjadi offset untuk positive growth kuartal IV/2023. Sri Mulyani mengatakan belanja pada akhir tahun akan dipercepat seiring dengan dilaksanakannya berbagai program yang telah direncanakan. Selain itu, pemerintah memberikan stimulus fiskal tambahan mulai dari PPN rumah DTP, bantuan langsung tunai (BLT), hingga bantuan beras.
Baca juga: DPR Resmi Sahkan RUU APBN 2024 Menjadi UU
Ia pun berharap pertumbuhan ekonomi pada kuartal IV/2023 dapat mencapai hingga 5%. Telah diketahui, per September 2023, realisasi belanja negara mencapai hingga Rp1.967,9 triliun atau 64,3% dari target yang ditetapkan.
Sementara itu, realisasi pendapatan negara ini mencapai Rp2.035,6 triliun atau 82,6% dari target. Dengan demikian, APBN masih mencatatkan surplus senilai Rp67,7 triliun atau 0,32% dari PDB. Meskipun mencetak surplus, total pembiayaan anggaran telah direalisasikan pemerintah hingga mencapai Rp163 triliun.
Adapun, Sri Mulyani juga menyatakan pada kuartal III/2023, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga di Tengah ketidakpastian global. Perkembangan ini didukung oleh kondisi perekonomian dan sistem keuangan domestik yang resilient.
Baca juga: Pemerintah Catat APBN Kuartal I/2023 Alami Surplus
Ia juga menuturkan bahwa saat ini kondisi ekonomi global cukup menantang, dimana IMF memperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada 2023 mencapai 3% dan melambat menjadi 2,9% pada tahun 2024. Jika dilihat dengan segi lainnya, tekanan inflasi global diperkirakan masih tinggi, karena kenaikan harga energi dan pangan akibat eskalasi konflik geopolitik, fenomena El Nino, dan fragmentasi ekonomi.
Dengan kondisi tersebut, berdampak pada suku bunga kebijakan moneter di negara maju, termasuk Amerika Serikat diperkirakan masih tetap berada di level yang tinggi dalam jangka waktu yang lebih lama. Kemudian, perekonomian Indonesia pun diperkirakan akan tetap tumbuh. Konsumsi swasta juga diproyeksikan masih tumbuh kuat sejalan dengan keyakinan konsumen yang tinggi, aktivitas terkait pelaksanaan pemilu, dan terkendalinya inflasi.









