Pemerintah catat kinerja APBN (Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara) Kuartal Pertama Tahun 2023 alami surplus sebesar Rp128,5 triliun, dimana jumlah tersebut setara dengan 0,61% produk domestik bruto (PDB).
Sri Mulyani Indrawati selaku Menteri Keuangan Indonesia mengungkapan bahwa surplus ini terjadi sebagai pertanda bahwa pengelolaan APBN Indonesia masih kuat ditopang dari kinerja belanja dalam tren yang baik serta pendapatan yang masih tetap kuat. Surplus terjadi sebab belanja negara tercatat senilai Rp518,7 triliun, sedangkan pendapatan negara tercatat sebesar Rp647,2 triliun.
Sri Mulyani mengungkapkan jika Surplus APBN Kuartal I Tahun 2023 saat ini jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2022 jauh melampauinya lebih tinggi. Pada saat Kuartal I Tahun 2022, APBN saat itu alami surplus hanya sebesar Rp11,1 triliun atau setara dengan 0,06% dari PDB.
Baca juga Pasca Pelaporan SPT Tahunan, DJP Akan Menguji Kepatuhan Material WP
Dalam APBN 2023, pemerintah telah merancang terjadi defisit hingga sebesar Rp 598,2 triliun atau setara dengan 2,84% PDB. Menkeu Sri Mulyani menyatakan, bahwa pemerintah akan terus berupaya dalam menyehatkan APBN pasca bekerja keras dalam menjaga perekonomian negara selama pandemi.
Beliau menyebutkan bahwa hingga Maret 2023, pendapatan negara berhasil tumbuh hingga 29%. Beliau menambahkan jika sumber utama pendapatan negara yang berjumlah hingga Rp647,2 triliun tersebut yaitu berasal dari penerimaan pajak.
Dengan rincian bahwa penerimaan negara dari sektor perpajakan sebesar Rp504,5 triliun, yang mana sebesar RP432,2 triliun berasal dari pajak, dan sebesar Rp72,2 triliun berasal dari kepabeanan dan cukai. Kemudian sisanya sebesar Rp142,7 triliun bersumber dari realisasi penerimaan negara bukan pajak atau yang dikenal juga dengan istilah PNBP.
Sri Mulyani mengungkapkan penerimaan negara yang berasal dari perpajakan sebesar Rp504,5 triliun tersebut mengalami pertumbuhan hingga 25,4%.
Baca juga Aturan Baru PPh 23 Royalti Terbit, Tarif Pajak Menurun
Menkeu melanjutkan, dari sisi belanja negara, realisasinya sebesar Rp518,7 triliun, yang mana jika dirinci terdiri atas belanja pemerintah pusat sebesar Rp347,3 triliun dan belanja transfer ke daerah sebesar Rp171,4 triliun. Untuk belanja pusat, sebesar Rp166,9 triliun digunakan untuk belanja kementerian/lembaga dan sebesar Rp180,3 triliun untuk belanja non kementerian/lembaga.
Dengan adanya surplus APBN pada Kuartal I/2023 ini, beliau mengungkapkan realisasi pembiayaan anggaran dalam tiga bulan tahun ini mencapai Rp203,7 triliun atau meningkat 45,8 persen dari realisasi Kuartal I/2022 sebesar Rp139,8 triliun.
Selain alami surplus, Menkeu menyebut APBN juga menyumbang keseimbangan primer yang positif sebesar Rp139,6 triliun. Keseimbangan primer merupakan selisih antara total pendapatan negara yang kemudian dikurangi dengan belanja negara tidak termasuk pembayaran bunga utang.









