Kelebihan Saldo Anggaran (SAL) adalah jumlah kumulatif yang tersisa dari seluruh dana anggaran yang ada pada tahun sebelumnya.
Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan, negara akan mengefektifkan pembiayaan non utang, termasuk memanfaatkan kelebihan saldo anggaran (SAL) untuk memenuhi kebutuhan pendanaan APBN tahun ini. Menteri Sri Mulyani juga mengatakan, SAL akan terus digunakan untuk mengelola pembiayaan utang dan optimis pemerintah mampu menurunkan rasio utang dari semula 40,7% menjadi 37,9% dengan menggunakan SAL.
Kemudian, Menurut Menteri Sri Mulyani, rasio ini merupakan yang terendah ketiga di ASEAN. Kebutuhan utang juga diperkirakan akan menurun tahun ini. Direktur Keuangan Bidang Pendanaan dan Manajemen Risiko Luky Alfirman mengatakan, pihaknya terus memodernisasi peningkatan pembiayaan utang Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN).
Baca juga Peran Perpajakan Dalam Menekan Kenaikan BBM
Departemen Keuangan juga akan mendorong pinjaman bebas utang pada 2022. Perbendaharaan menyebutkan akan ada SAL Rp 144 triliun pada 2021, yang bisa menjadi sumber pendanaan tahun ini. Dana tersebut perlu dioptimalkan dengan baik agar dapat digunakan secara bijak dan tidak berlebihan pada tahun berikutnya.
Dalam RAPBN 2022, disebutkan akan terjadi defisit anggaran sebesar Rs 868 triliun yang akan dibiayai dengan jumlah yang sama dari pinjaman fiskal. Pembiayaan anggaran sendiri terdiri dari pembiayaan utang Rp 973,5 triliun, pembiayaan investasi Rp 182,3 triliun, pembiayaan Rp 585,4 triliun, dan pembiayaan lainnya Rp 77,3 triliun.
Baca juga Pajak dan Pemulihan Ekonomi
Pinjaman anggaran memiliki komponen pinjaman investasi negatif sebesar Rp 182,3 triliun dan kewajiban penjaminan negatif sebesar Rp 1,13 triliun. Ketentuan lebih lanjut mengenai rincian anggaran yang akan dibiayai akan diatur dalam keputusan presiden.









