Organisasi ekonomi dunia, OECD (Organization for Economic Co-operation and Development) memprediksi perekonomian Indonesia akan mampu tumbuh hingga 5,1% pada tahun 2024 ini. Pertumbuhan Investasi menjadi faktor utama pertumbuhan ekonomi di Indonesia menurut OECD. Selain Indonesia, ada negara berkembang lain yaitu India yang juga bertumbuh dengan faktor yang sama. Menurut laporan OECD, Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia dan India diprediksi akan naik lebih dari 6,25% dan 5% per tahun.
Inflasi tahun 2024 diperkirakan sebesar 2,5%, sedikit lebih rendah bila dibandingkan dengan inflasi pada tahun lalu yang sebesar 2,61%. Selain Indonesia dan India, angka inflasi negara berkembang lain seperti Brazil, Meksiko, dan Afrika Selatan diprediksi juga akan turun sejalan dengan target yang ditetapkan oleh bank sentral. Melihat kondisi tersebut, OECD merekomendasikan kepada yurisdiksi-yurisdiksi untuk tetap menerapkan kebijakan moneter yang prudent untuk terus menurunkan tekanan inflasi.
Yurisdiksi-yurisdiksi ini juga perlu mereformasi kebijakan pajaknya agar dapat memenuhi kebutuhan belanja sekaligus merespons tingginya rasio utang pascapandemi Covid-19. Pengenaan pajak perlu dialihkan dari pajak penghasilan ke pajak atas properti dan konsumsi. Selain itu, pengecualian pajak juga perlu dikurangi guna memperluas basis pajak. Kerangka kebijakan fiskal jangka menengah dengan rencana belanja dan pajak yang jelas juga perlu penyusunan guna mengentrol laju kenaikan utang.
Baca juga: Dampak G20 dan KTT Asean Terhadap Perekonomian Indonesia
Jika dilihat dari pertumbuhan ekonomi tahun lalu yang mencatat pertumbuhan ekonomi 5,05%, wajar jika tahun ini pemerintah lebih optimis dalam menatap perekonomian. Berbagai pendapat positif tentang perekonomian Indonesia tahun 2024 bermunculan, salah satunya dari ekonom Bank Permata, Josua Pardede.
Josua memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia pada 2024 masih akan ditpoang oleh permintaan domestik. Di semester pertama tahun 2024, potensi timbulnya tantantan bagi perekonomian Indonesia dapat muncul dari faktor internal dan eksternal. Di sisi internal, Josua menjelaskan ada potensi peningkatan inflasi pangan akibat adanya El Nino yang berdampak pada konsumsi rumah tangga.
Pemilu 2024 juga memicu aksi wait and see investor yang akan mempengaruhi kinerja pembentukan modal tetap bruto (PMTB) atau investasi. Josua menambahkan, peluang pertumbuhan tetap ada, termasuk disorong oleh peningkatan belanja pemerintah terkait dengan pemilihan umum 2024 dan percepatan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Baca juga: Dampak Perang Timur Tengah Terhadap Perekonomian Nasional
Pada semester 2 tahun 2024, seiring dengan selesainya pemilu dan potensi penurunan suku bunga kebijakan global, Josua memprediksi tekanan eksternal akan berkurang secara bertahap. Kondisi tersebut akan memacu investasi langsung dan peningkatan arus modal masuk ke dalam negeri. Kebijakan fiskal dan moneter yang pro-pertumbuhan juga akan menjadi faktor yang mendukung pertumbuhan ekonomi tahun ini.
Di sisi lain, Bank Indonesia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada tahun ini mencapai 4,7% hingga 5,5%. BI menyebut pertumbuhan ekonomi pada 2024 akan didukung oleh permintaan domestik, terutama pertumbuhan konsumsi karena penyelenggaraan pemilu. Selain itu, pertumbuhan ekonomi juga didukung oleh peningkatak investasi khususnya di bidang pembangunan sejalan dengan pembangunan Ibu Kota Nusantara (IKN).









