Belum genap sebulan sejak Lapor Pak Purbaya beroperasi mulai Rabu (15/10/2025), Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa sudah mengakui bahwa pihaknya mengalami kendala dalam memproses tindak lanjut laporan yang masuk melalui kanal tersebut.
Purbaya menjelaskan bahwa kendala utama yang dihadapi timnya terletak pada proses verifikasi laporan. Banyak pelapor yang sulit dihubungi kembali setelah mengirimkan aduan melalui WhatsApp. Padahal, proses klarifikasi sangat dibutuhkan untuk memastikan kebenaran laporan sebelum ditindaklanjuti.
“Ada kelemahan dari saluran saya rupanya, yang baru saya sadari. Kalau ditelepon, para pelapor sering tidak mau mengangkat telepon. Saya yakin mereka takut karena tidak tahu siapa yang menelepon,” ujar Purbaya, Jumat (24/10/2025).
Baca Juga: “Lapor Pak Purbaya” Siap Tampung Aduan Oknum Pajak, Catat Nomornya!
Menurutnya, tim khusus yang menangani laporan tersebut perlu berkomunikasi langsung dengan pelapor untuk memvalidasi informasi. Namun, karena sebagian pelapor enggan merespons panggilan, verifikasi menjadi sulit dilakukan.
Sebagai solusi, Purbaya menjelaskan bahwa pemerintah akan segera menetapkan satu nomor resmi yang digunakan khusus untuk menghubungi para pelapor. Dengan begitu, masyarakat bisa lebih tenang saat menerima panggilan verifikasi.
“Nanti akan disebutkan satu nomor resmi supaya mereka tidak takut. Karena kesulitannya selama ini, mereka takut dihubungi oleh nomor tak dikenal, padahal kami perlu memverifikasi laporan mereka,” tambahnya.
Sudah Terima Ribuan Laporan
Layanan yang diluncurkan melalui nomor WhatsApp Lapor Pak Purbaya di 0822 4040 6600, sejatinya merupakan inisiatif Menteri Keuangan untuk meningkatkan transparansi dan akuntabilitas di lingkungan Direktorat Jenderal Pajak (DJP) serta Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC).
Selang dua hari sejak dirilis, platform tersebut telah menerima 15.933 laporan yang berkaitan dengan pajak, kepabeanan, dan cukai. Dari jumlah tersebut, sekitar 13.285 laporan akan diverifikasi lebih lanjut, sementara 2.459 lainnya tidak diproses karena hanya berisi ucapan selamat, apresiasi, atau pesan umum lainnya.
Baca Juga: Bersih-bersih Kemenkeu, Purbaya dan DJP Mulai Tindak Tegas Pegawai “Nakal”
Dari ribuan laporan yang masuk, salah satu yang menjadi sorotan sang Bendahara Negara adalah aduan mengenai oknum pegawai Bea Cukai yang kedapatan kerap menghabiskan waktu di coffee shop, alih-alih bekerja di kantor. Dengan mengenakan seragam dinasnya, ia membicarakan urusan bisnis pribadi, termasuk pengiriman dan penjualan mobil.
“Ada yang lapor petugas Bea Cukai nongkrong di coffee shop, buka laptop tiap hari, ngomongin bisnis aset, gimana jual mobil kiriman. Saya wiraswasta, risih lihatnya,” ujar Purbaya menirukan isi laporan.
Meski masih menghadapi sejumlah kendala teknis di awal pelaksanaan, Purbaya optimistis bahwa sistem pengaduan ini akan semakin efektif seiring perbaikan mekanisme komunikasi dan verifikasi di lapangan. Pemerintah juga berkomitmen untuk menindaklanjuti setiap laporan yang valid secara cepat dan transparan.









