Pemerintah Indonesia memastikan tidak akan menaikkan tarif cukai hasil tembakau (CHT) pada 2026. Keputusan ini diambil dengan alasan mempertimbangkan dampak terhadap tenaga kerja dan keberlangsungan industri rokok, yang hingga kini masih menyerap jutaan pekerja di Indonesia.
Namun, kebijakan menahan kenaikan cukai ini menimbulkan beragam pandangan. Sebagian pihak menilai langkah tersebut dapat membantu menjaga stabilitas industri, sementara sebagian lainnya khawatir keputusan ini bisa memperlambat upaya pengendalian konsumsi rokok serta menurunkan potensi penerimaan negara.
Sebagai pembanding, sejumlah negara justru memilih menerapkan kebijakan cukai tahun jamak alias kenaikan tarif yang dijadwalkan secara bertahap setiap tahun untuk mencapai keseimbangan antara tujuan fiskal, kesehatan, dan ekonomi.
Apa Itu Cukai Tahun Jamak?
Cukai tahun jamak adalah kebijakan kenaikan tarif cukai yang direncanakan untuk beberapa tahun ke depan, bukan hanya satu kali penyesuaian. Tujuannya agar kenaikan harga produk tembakau berjalan stabil, memberikan kepastian bagi industri, serta efektif menekan konsumsi dalam jangka panjang.
Model ini telah diadopsi di berbagai negara dengan hasil yang cukup positif, baik dari sisi penerimaan negara maupun penurunan prevalensi perokok.
Baca Juga: Strategi Menkeu Kejar Setoran CHT Tanpa Matikan Industri Tembakau
Negara yang Terapkan Cukai Tahun Jamak
Berdasarkan hasil kajian Center for Indonesia’s Strategic Development Initiative (CISDI) dalam Policy Paper Kebijakan Cukai Tembakau Tahun Jamak di Tujuh Negara, berikut beberapa contoh penerapan kebijakan tersebut:
- Australia menjadi negara dengan masa penerapan terlama, yaitu sejak 2013 dengan kenaikan 12,5% setiap tahun.
- Filipina melakukan reformasi besar pada 2012–2017 dengan kenaikan tarif hingga 820% untuk rokok murah dan penyederhanaan golongan cukai dari empat menjadi dua.
- Selandia Baru, Albania, Makedonia, Serbia, dan Ukraina juga menjalankan skema serupa, dengan kenaikan tahunan antara 6% hingga 30%.
Langkah negara-negara tersebut menunjukkan bahwa kenaikan bertahap memberi kepastian arah kebijakan. Kebijakan yang demikian juga membawa dampak positif di berbagai aspek, mulai dari ekonomi, kesehatan, hingga sosial.
Dampak Ekonomi
Salah satu dampak paling nyata dari kebijakan cukai tahun jamak adalah peningkatan penerimaan negara.
- Di Filipina, pendapatan cukai tembakau melonjak dari 32 miliar peso pada 2012 menjadi 106 miliar peso pada 2016. Angka ini naik lebih dari tiga kali lipat hanya dalam empat tahun.
- Di Albania dan Serbia, kebijakan serupa meningkatkan pendapatan hingga 4–7% per tahun.
- Bahkan Ukraina mencatat kenaikan penerimaan signifikan meski perdagangan rokok ilegal meningkat dua kali lipat, berkat sistem pemungutan cukai yang lebih efisien.
Selain menambah kas negara, reformasi cukai juga membantu menciptakan struktur pasar yang lebih sehat. Dengan penyederhanaan golongan cukai seperti di Filipina, perbedaan harga antarjenis rokok menjadi lebih kecil.
Hal itu membuat masyarakat tidak lagi berpindah ke rokok yang lebih murah saat harga naik. Alhasil, konsumsi tembakau pun menurun secara menyeluruh, bukan hanya berpindah segmen.
Lebih jauh lagi, kebijakan ini juga memungkinkan pemerintah mengalokasikan dana cukai untuk kepentingan publik. Di Filipina, sekitar 80% penerimaan cukai tembakau disalurkan ke sektor kesehatan, mulai dari subsidi asuransi bagi masyarakat miskin, pengembangan rumah sakit daerah, hingga program pertanian alternatif bagi petani tembakau.
Baca Juga: Salah Kaprah soal Cukai Minuman Berpemanis, Benarkah Industri Bakal Merugi?
Dampak Kesehatan
Dampak paling signifikan lainnya muncul di bidang kesehatan. Kenaikan harga yang konsisten membuat rokok menjadi semakin tidak terjangkau, terutama bagi remaja dan kelompok berpenghasilan rendah, dua segmen yang paling rentan menjadi perokok.
- Di Filipina, prevalensi perokok dewasa turun drastis dari 31% (2008) menjadi 20,7% (2018).
- Di Serbia, jumlah perokok menurun hingga 10% dalam satu dekade.
- Di Australia, harmonisasi cukai antara rokok linting dan rokok buatan mesin berhasil mengurangi konsumsi lintingan di kelompok masyarakat pra-sejahtera.
Selain menurunkan angka perokok, kebijakan ini juga meningkatkan motivasi untuk berhenti merokok. Di Selandia Baru, penelitian menunjukkan bahwa banyak perokok mengaku berhenti atau mengurangi konsumsi karena sadar harga rokok akan terus naik dalam beberapa tahun ke depan.
Studi pemodelan di Serbia juga memperkirakan bahwa kebijakan cukai tahun jamak dengan kenaikan 15% per tahun dapat mencegah sekitar 17.000 anak muda memulai kebiasaan merokok.
Dampak Sosial dan Tata Kelola
Kebijakan cukai tahun jamak tidak hanya berdampak pada ekonomi dan kesehatan, tetapi juga memperkuat tata kelola kebijakan publik.
Di Ukraina, penerapan skema ini menjadi bagian dari upaya reformasi fiskal dan penyelarasan dengan standar Uni Eropa yang menetapkan tarif minimum cukai sebesar EUR 90 per 1.000 batang rokok. Penyesuaian ini membantu Ukraina mempercepat integrasi dalam perjanjian European Union–Ukraine Association Agreement.
Dari sisi industri, kenaikan bertahap memberikan kepastian jangka panjang bagi pelaku usaha, karena perusahaan dapat memperkirakan perubahan harga dan menyesuaikan strategi produksi atau distribusi mereka.
Di sisi lain, sistem kenaikan yang telah dijadwalkan juga mengurangi ruang intervensi politik dan industri dalam penentuan tarif tahunan, membuat proses kebijakan lebih transparan dan berorientasi pada kepentingan publik.
FAQ Seputar Kebijakan Cukai Tembakau Tahun Jamak
1. Apa yang dimaksud dengan kebijakan cukai tahun jamak?
Cukai tahun jamak adalah sistem kenaikan tarif cukai yang dirancang untuk beberapa tahun ke depan. Artinya, pemerintah menetapkan jadwal kenaikan secara bertahap agar harga produk tembakau naik secara konsisten dan terukur.
2. Apa dampak positif kebijakan cukai tahun jamak terhadap perekonomian?
Cukai tahun jamak terbukti meningkatkan penerimaan negara secara signifikan. Selain itu, kebijakan ini menciptakan struktur pasar yang lebih adil, mempersempit selisih harga antarjenis rokok, dan mendorong masyarakat untuk mengurangi konsumsi tembakau.
3. Bagaimana dampaknya terhadap sektor kesehatan masyarakat?
Kenaikan harga yang konsisten membuat rokok semakin tidak terjangkau, terutama bagi remaja dan masyarakat berpenghasilan rendah. Akibatnya, banyak perokok terdorong untuk berhenti karena sadar harga akan terus meningkat setiap tahun.
4. Apakah kebijakan ini berdampak negatif bagi petani tembakau?
Pengalaman Filipina menunjukkan sebaliknya. Pemerintah mengalokasikan sebagian besar pendapatan cukai untuk program pertanian alternatif dan peningkatan kesejahteraan petani.







