Ganjar Pranowo Hadiri Sarasehan 100 Ekonom, Sebut Pentingnya Ekonomi Maritim

Di tahun ini, Indonesia akan menyelenggarakan pesta demokrasi pada periode masa jabatan 2024-2029. Dalam rangka mendukung pelaksanaan kegiatan Pemilu, sejumlah kegiatan pun dilakukan untuk memahami lebih dalam kinerja dan program yang akan dilakukan oleh Capres dan Cawapres tahun 2023.

Pada 7 November 2023, Bakal Capres Ganjar Pranowo menghadiri kegiatan Sarasehan 100 Ekonomi Indonesia dengan membawakan perbincangan ‘’Unggul dengan Ekonomi Nilai Tambah berbasis Pengetahuan dan Inovasi’’. Di acara tersebut, Ganjar menjelaskan sejumlah usulan sebagai berikut.

Pada era ini, Ganjar menyebutkan masifnya pembangunan infrastruktur pada era Jokowi, namun belum menghasilkan. Oleh karena itu, Ganjar menyebutkan usulannya untuk mendorong pembangunan fisik yang menjadi stimulus bagi sarjana dari keluarga miskin yang kembali ke desa.

Ganjar menyebutkan bahwa penciptaan infrastruktur perlu didorong dengan pembekalan pendidikan untuk Sumber Daya Manusia yang diharapkan ketika selesai menempuh pendidikan dapat kembali ke Desa asal untuk meningkatkan pertumbuhan pedesaan dengan tetap menjaga kearifan lokal.

Lalu, pemanfaatan infrastruktur dapat terjadi ketika ada permintaan masyarakat. Misalnya, adanya bandara yang menghubungkan kota dan desa akan menciptakan mobilisasi kedua tempat, sehingga ekonomi desa dan kota sama-sama bertumbuh.

Ganjar pun menjelaskan orientasinya dalam mengembangkan industri. Ia akan menggencarkan industri bernilai tinggi, khususnya bahan bakar mineral yang mencapai US$71 miliar, bijih mineral US$10,3 mineral, dan karet US$6,4 miliar.

Komoditas unggul milik Indonesia seperti bahan bakar dari mineral, bijih mineral, karet, besi/baja, dan minyak sawit ini menghasilkan output GDP sebesar 7,6% di tahun 2021-2022. Dengan jumlah ini, Ganjar menilai penerimaan di Indonesia masih memiliki sisi yang belum efesien.

Komoditas seperti mineral, kelapa sawit, dan karet belum dikelola dengan benar, sehingga yang dijual masih mentah dan setengah jadi. Ia menyebutkan, komoditas dari industrialisasi ini akhirnya menjadi komersialisasi.

Adapun, langkah yang dapat ditempuh ialah dengan efisiensi dan efektivitas dalam investasi. Kemudian, kolaborasi antara industri lokal dan global. Ganjar menyebutkan dapat berdiskusi dengan peneliti seperti BRIN dengan mendorong biaya riset yang lebih tinggi.

Guna mendukung hal ini, Ganjar menyebutkan perlunya kerja sama kepada pihak industri dan pengusaha di antaranya melalui pemberian insentif pajak bagi pihak industri dan pengusaha, sehingga mendukung industrialisasi yang berjalan.

Baca juga: Proyeksi Pemilu dan Pilkada Terhadap Penerimaan Pajak Indonesia

Ganjar menjelaskan potensi lapangan pekerjaan pada Energi Baru dan Terbarukan (EBT) ialah sebesar 3,7 Juta. Potensi ini akan dimanfaatkan kedepannya dengan pengumpulan kemampuan yang dibutuhkan yaitu teknik lingkungan, teknik pangan, data scientist, dan recyclable material. Oleh karena itu, diperlukan kesinambungan antara lapangan kerja dan pendidikan yang ada.

Tidak hanya potensi lapangan pekerjaan pada EBT, Ganjar juga menyebutkan adanya potensi optimalisasi ekonomi biru melalui wilayah laut dan perairan Indonesia. Potensi ini dapat dimanfaatkan dengan adanya pengumpulan kemampuan atas vokasi keterampilan, teknik lingkungan, dan ekonomi serta manajemen. Pada hal ini, ia menekankan untuk pengembangan ekonomi tidak berfokus pada land base, melainkan ocean base.

Dalam rangka mendukung pertumbuhan ekonomi, Ganjar menjelaskan pentingnya edukasi anti KKN (Korupsi, Kolusi, dan Nepotisme), melaksanakan e-Budgeting, e-Planning, hingga e-Audit. Adapun, untuk meningkatkan pemasaran produk bagi UMKM, disarankan penggunaan e-Catalog.

Kemudian, Ganjar pun mengedepankan kerja sama perekonomian dengan negara lainnya untuk memproduksi barang konsumsi. Sebagai contoh, Indonesia memiliki bahan baku nikel dapat dibuat secara end-to-end menjadi baterai yang digunakan untuk ekosistem pembuatan mobil.

Namun, pembuatan tersebut membutuhkan Lithium yang dapat didapatkan melalui negara lain. Ganjar menekankan negara memiliki peran untuk menentukan rekan dan proses atas kerja sama ini sesuai dengan transisi ekonomi hijau menuju EBT.

Baca juga: Jokowi Sebut Investasi IKN Tetap Lanjut Hingga Pemilu 2024

Ganjar berjanji akan memperluas sektor hilirisasi, tidak hanya pada nikel. Ia mengatakan hal ini perlu diadakan untuk pemerataan terkait hilirisasi agar tidak terjadi ketimpangan pada pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia pun mengatakan kekayaan sumber daya alam yang dimiliki Indonesia belum dikelola secara maksimal.

Ganjar pun menilai, saat ini pemerintah kurang memberikan perhatian pada ekonomi maritim. Sedangkan, menurutnya sektor ekonomi maritim memiliki potensi besar untuk berkontribusi dalam kemajuan ekonomi Indonesia.

Tak hanya itu, Ganjar pun menjelaskan strategi yang dijalankan melalui Indonesia bagian timur untuk mencapai pembangunan di antaranya dengan pendidikan dan penyediaan skala prioritas bagi Indonesia bagian timur.

Lalu, permasalahan buruh pada perekonomian pun dijelaskan, dimana poin utama dari permasalahan buruh ialah pendidikan keluarga buruh, kesehatan keluarga buruh, akomodasi yang tidak baik, dan biaya transportasi buruh dalam bekerja.

Hal ini dapat dioptimalisasi dengan intervensi pemerintah melalui sekolah gratis bagi anak dari keluarga buruh, kewajiban pemberian BPJS, pemberian rusun di sekitar lingkungan kerja buruh, dan pemberian bus transportasi yang murah bagi karyawan. Tidak hanya perbincangan ekonomi dan pajak, Ganjar juga menjelaskan persoalan terkait pembangunan manusia unggul melalui perlindungan anak, perempuan, dan penyandang disabilitas sejak dini.

Pada kesimpulannya, Ganjar menekankan optimalisasi ekonomi hijau, biru, hingga digital sebagai ekonomi baru untuk membuka pasar dan kesempatan dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi untuk mewujudkan Indonesia unggul. Tiga hal pokok yang menjadi acuannya dalam membangun Indonesia ialah stabilitas bangsa yang terjaga, keberlanjutan dan kesinambungan, serta sumber daya manusia yang berkualitas.