Dampak Penguatan Dolar AS Terhadap Perekonomian Indonesia

Sejak Juli 2023, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat kian melemah. Hingga 5 Oktober 2023 pagi, nilai tukar rupiah ada di posisi 15.597 per dolar Amerika Serikat. Penguatan dolar AS ini tidak lepas dari kenaikan suku bunga dan inflasi akibat perang antara Rusia dan Ukraina. Meskipun di awal Oktober, rupiah sudah mulai memberikan sinyal penguatan, namun pemerintah perlu mewaspadai adanya sentimen lain yang dapat membuat rupiah kembali melemah.

Kondisi pelemahan rupiah yang dialami sekarang ini, terlebih jelang kuartal 4 2023, secara langsung dan tidak langsung berpengaruh terhadap perekonomian Indonesia. Jika kita melihat imbas pelemahan rupiah dari sisi investasi, Indeks Harga Saham Gabungan juga mengalami penurushan beberapa hari ke belakang. Begitupun ninstrumen investasi obligasi pemerintah dan perusahaan, nilai jual dan beli obligasi menunjukkan penurunan yang cukup signifikan.

Sebagai mata uang utana di dunia, dolar Amerika Serikat memiliki pengaruh yang besar terhadap perekonomian Indonesia dan dunia. Tidak hanya rupiah, mata uang negara di Asia Tenggara lain juga terkena imbasnya. Berikut adalah dampak yang terlihat langsung dari pelemahan rupiah terhadap dolar Amerika Serikat.

  • Impor Menjadi Lebih Mahal

Mata uang Indonesia, yaitu rupiah (IDR), umumnya diperdagangkan terhadap dolar Amerika. Ketika dolar menguat, nilai tukar rupiah terhadap dolar cenderung melemah. Hal ini membuat harga barang impor yang diukur dalam dolar menjadi lebih mahal ketika dikonversi ke dalam rupiah. Indonesia adalah negara yang cukup bergantung pada impor untuk beberapa barang dan jasa, termasuk minyak mentah, mesin, dan barang konsumen. Dengan demikian, ketika impor menjadi lebih mahal, dapat menyebabkan inflasi, yaitu kenaikan harga secara umum di dalam negeri.

  • Tekanan Pada Neraca Perdagangan

Penguatan dolar dapat memberikan tekanan pada neraca perdagangan Indonesia. Barang ekspor Indonesia yang diukur dalam dolar akan menjadi lebih mahal bagi negara-negara lain, yang dapat mengurangi daya saing ekspor Indonesia. Jika permintaan ekspor menurun, ini bisa berdampak negatif pada neraca perdagangan nasional dan pada akhirnya mengurangi pertumbuhan ekonomi.

Baca juga: Hasil KTT ke-43 ASEAN 2023 Berikan Manfaat di Bidang Ekonomi

  • Hutang Luar Negeri yang Meningkat

Banyak sekali negara berkembang, termasuk Indonesia, memiliki sejumlah hutang luar negeri yang diukur dalam dolar Amerika Serikat. Ketika dolar menguat, nilai hutang ini dalam mata uang lokal akan meningkat. Hal ini dapat menyebabkan tekanan pada keuangan pemerintah dan perusahaan-perusahaan yang memiliki hutang luar negeri. Mereka mungkin perlu membayar lebih banyak dalam mata uang lokal untuk melayani hutang dalam dolar yang bisa menyebabkan kesulitan keuangan dan bahkan default pada hutang dalam kasus yang ekstrem.

  • Investasi asing

Penguatan dolar juga dapat mempengaruhi aliran investasi asing ke Indonesia. Investor asing cenderung mencari keuntungan dari perbedaan suku bunga dan perbedaan nilai tukar mata uang. Ketika dolar menguat, investor asing mungkin menarik investasi mereka dari pasar emerging seperti Indonesia untuk berinvestasi di aset berdenominasi dolar yang memberikan pengembalian lebih baik. Hal ini dapat menyebabkan modal keluar dari Indonesia yang bisa menyebabkan depresiasi lebih lanjut pada rupiah dan menurunkan harga saham dan obligasi di pasar keuangan lokal yang sudah kita rasakan saat ini.

  • Dampak Pada Sektor Keuangan

Sektor keuangan Indonesia juga dapat terpengaruh oleh penguatan dolar. Bank dan perusahaan keuangan yang memiliki liabilitas dalam dolar bisa menghadapi peningkatan biaya pembiayaan. Selain itu, depresiasi rupiah bisa menyebabkan meningkatnya risiko kredit, karena perusahaan yang memiliki utang dalam dolar akan menghadapi biaya layanan hutang yang lebih tinggi dalam rupiah.

  • Dampak Pada Investasi dan Pertumbuhan Ekonomi

Penguatan dolar dapat mengurangi kepercayaan investor dan konsumen. Hal ini dapat menyebabkan penurunan angka investasi dan konsumsi yang dapat menyebabkan perlambatan pertumbuhan ekonomi. Selain itu, tekanan pada neraca perdagangan dan aliran modal keluar dapat menyebabkan defisit pada neraca transaksi berjalan, yang bisa menyebabkan pelemahan lebih lanjut pada rupiah dan meningkatkan ketidakstabilan ekonomi. Dampak ini dapat tercermin jika melihat IHSG beberapa waktu ke belakang.

  • Dampak pada Industri Tertentu

Beberapa industri di Indonesia lebih rentan terhadap penguatan dolar daripada yang lain. Misalnya, industri yang sangat bergantung pada impor bahan baku, seperti industri manufaktur dan industri otomotif, bisa menghadapi kenaikan biaya produksi ketika dolar menguat.

Baca juga: Perekonomian Meroket, Arab Saudi Susul Ekonomi China

Demikian pula, industri pariwisata, yang menerima pendapatan dalam rupiah tetapi memiliki biaya dalam dolar, bisa menghadapi penurunan pendapatan ketika dolar menguat. Sebagai masyarakat, kita juga bisa melakukan menerapkan strategi untuk menghadapi pelemahan rupiah agar tidak mengalami kerugian finansial yang besar. Berikut beberapa caranya:

  • Bijak Mengelola Keuangan Pribadi

Saat nilai tukar mata uang rupiah melemah terhadap dolar, biaya hidup mungkin meningkat, terutama untuk barang-barang yang diimpor atau yang menggunakan komponen impor. Oleh karena itu, penting untuk mengelola keuangan pribadi dengan bijak. Ini dapat mencakup pengurangan pengeluaran yang tidak penting, menabung, dan membuat anggaran yang realistis. Menjaga cadangan keuangan dalam bentuk tabungan atau investasi juga penting untuk menghadapi masa sulit.

  • Tepat Memilih Instrumen Investasi

Investasi adalah salah satu cara untuk melindungi nilai aset dari inflasi dan pelemahan mata uang. Namun, penting untuk memilih investasi yang tepat sesuai dengan profil risiko dan tujuan keuangan masing-masing individu. Diversifikasi portofolio investasi, yaitu menyebar investasi ke berbagai jenis aset seperti saham, obligasi, dan investasi berbasis dolar, dapat membantu mengurangi risiko dan memberikan perlindungan terhadap fluktuasi nilai tukar.

  • Perlindungan Terhadap Risiko Mata Uang

Untuk mereka yang memiliki transaksi atau hutang dalam dolar, ada risiko nilai tukar yang dapat menyebabkan kenaikan biaya dalam rupiah. Salah satu cara untuk mengurangi risiko ini adalah dengan menggunakan produk derivatif mata uang, seperti kontrak berjangka atau opsi, yang dapat membantu mengunci nilai tukar pada tingkat tertentu. Selain itu, membayar hutang dalam dolar lebih awal, jika memungkinkan, juga dapat membantu mengurangi risiko nilai tukar.

  • Meningkatkan Keahlian dan Keterampilan

Ketika ekonomi melemah, risiko pengangguran dan pemutusan hubungan kerja dapat meningkat. Oleh karena itu, penting untuk meningkatkan keterampilan dan pengetahuan melalui pendidikan dan pelatihan, yang dapat meningkatkan daya saing di pasar tenaga kerja. Mencari peluang pekerjaan tambahan atau sampingan juga bisa menjadi strategi untuk meningkatkan pendapatan.

  • Konsumsi Barang Lokal

Salah satu dampak pelemahan mata uang lokal adalah kenaikan harga barang impor. Oleh karena itu, masyarakat dapat membantu mengurangi biaya hidup dengan memprioritaskan konsumsi barang dan jasa lokal, yang cenderung lebih terjangkau dan tidak terpengaruh langsung oleh fluktuasi nilai tukar.

  • Waspada Terhadap Aksi Penipuan

Dalam situasi ekonomi yang tidak stabil, risiko penipuan dan penawaran investasi palsu dapat meningkat. Masyarakat harus berhati-hati dan melakukan due diligence sebelum mengambil keputusan investasi. Hindari penawaran yang terdengar terlalu bagus untuk menjadi kenyataan dan selalu berhati-hati terhadap penipuan yang mungkin menargetkan ketidakpastian ekonomi.