Reformasi Pengembalian Pajak untuk Dorong Wisata dan Konsumsi
China memperkenalkan kebijakan baru untuk memudahkan refund pajak bagi wisatawan asing sebagai bagian dari strategi memperkuat sektor pariwisata dan meningkatkan konsumsi domestik. Mulai 27 April 2025, negara tersebut secara resmi menurunkan ambang batas pengeluaran minimum untuk bisa menikmati fasilitas pengembalian pajak.
Ambang batas pembelanjaan dalam satu hari di satu toko kini diturunkan dari 500 yuan (sekitar Rp1,2 juta) menjadi 200 yuan (sekitar Rp462.700). Langkah ini diharapkan dapat mendorong lebih banyak wisatawan asing berbelanja dan meningkatkan daya tarik China sebagai destinasi wisata belanja.
Perluasan Lokasi Refund dan Saluran Pembayaran
Untuk mendukung kebijakan ini, pemerintah China juga memperluas daftar merchant pengembalian pajak. Wisatawan kini bisa menemukan refund counter di:
- Pusat perbelanjaan,
- Tempat wisata,
- Bandara internasional,
- Dan bahkan hotel tertentu.
Proses pengembalian dana dibuat lebih fleksibel dengan menyediakan berbagai metode pembayaran, seperti:
- Transfer ke kartu bank internasional,
- Aplikasi pembayaran digital,
- Atau pengembalian langsung dalam bentuk uang tunai.
Sebagai tambahan, batas maksimal pengembalian uang tunai turut dinaikkan dari 10.000 yuan (Rp23,1 juta) menjadi 20.000 yuan (Rp46,2 juta).
Baca juga: Aturan Pajak Impor Mobil China ke Eropa Dilonggarkan, Indonesia Bagaimana?
Syarat Mendapatkan Refund Pajak di China
Untuk mendapatkan refund pajak di China, wisatawan perlu memenuhi beberapa persyaratan, antara lain:
- Belanja di toko terdaftar sebagai merchant refund resmi.
- Minimal belanja 200 yuan dalam satu hari pada satu merchant.
- Menunjukkan paspor asli saat mengajukan pengembalian.
- Menyelesaikan prosedur refund sebelum meninggalkan wilayah China.
- Barang yang dibeli harus dibawa keluar dari China dalam batas waktu yang ditentukan.
Selain itu, proses klaim biasanya dilakukan di bandara atau tempat khusus refund sebelum keberangkatan, dengan mengisi formulir dan menyerahkan bukti pembelian.
Dampak Kebijakan: Wisata dan Konsumsi Tumbuh Signifikan
Kebijakan pelonggaran refund pajak ini sudah menunjukkan dampak positif. Menurut laporan dari Global Times, pada kuartal pertama 2025:
- Jumlah pengembalian pajak naik 1,2 hingga 1,3 kali lipat dibanding tahun sebelumnya.
- Di Shanghai saja, total nilai belanja wisatawan asing yang mendapatkan refund mencapai 760 juta yuan, meningkat 85 persen dari tahun lalu.
Shanghai menjadi salah satu dari lima kota yang difokuskan menjadi pusat konsumsi internasional bersama Beijing, Guangzhou, Chongqing, dan Tianjin.
Baca juga: Dampak Tarif Impor AS Era Trump terhadap Ekonomi dan Pajak Indonesia
Tren Kunjungan Wisatawan Asing Menguat
Data dari Statista mencatat kedatangan wisatawan internasional ke China pada tahun 2024 mencapai hampir 132 juta orang, dengan peningkatan signifikan pasca-pandemi. Sebanyak 9,2 juta pelancong asing tercatat masuk ke China hanya dalam tiga bulan pertama 2025, naik 40,2 persen dari tahun sebelumnya.
Lebih dari 70 persen wisatawan tersebut memanfaatkan fasilitas bebas visa transit, memperlihatkan bahwa kebijakan kemudahan akses ikut berperan besar dalam menarik minat wisatawan asing.
Mendorong Ekonomi Domestik di Tengah Ketegangan Global
Upaya China memperkuat konsumsi domestik ini dinilai sebagai respons adaptif di tengah ketidakpastian perdagangan global, terutama setelah ketegangan tarif dengan Amerika Serikat. Dengan meningkatkan pengalaman wisata belanja dan memberikan insentif nyata melalui refund pajak yang lebih mudah, China berharap bisa menjaga pertumbuhan konsumsi domestik tetap stabil.
Selain dari sektor wisata, langkah ini juga dipandang sebagai strategi untuk mendiversifikasi sumber pertumbuhan ekonomi di tengah perubahan struktur perdagangan internasional.
Kesimpulan
Melalui penurunan batas belanja minimum, perluasan lokasi refund, dan diversifikasi saluran pembayaran, kebijakan refund pajak baru di China diharapkan dapat meningkatkan belanja wisatawan asing dan memperkuat konsumsi domestik.
Bagi wisatawan yang berencana mengunjungi China, kebijakan ini menjadi peluang menarik untuk menikmati pengalaman belanja yang lebih hemat dan mudah. Sementara bagi negara lain, reformasi ini bisa menjadi studi kasus tentang bagaimana fiskal wisata bisa dioptimalkan untuk mendukung pemulihan ekonomi nasional.
Source: Diadaptasi dari laporan Global Times, thepaper.cn, dan data Kementerian Luar Negeri China.







