APBN Surplus Rp107 Triliun, Hingga Agustus 2022

Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) 2022 masih mengalami surplus hingga Agustus 2022. Menteri Keuangan mencatat surplus APBN pada periode laporan senilai Rp 107,4 triliun. Angka tersebut setara 0,58% terhadap produk domestik bruto (PDB).

Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan, bahwa surplus itu menandakan pengelolaan APBN sudah sesuai dengan berbagai tantangan yang dihadapi saat ini. Adapun, pendapatan negara per Agustus tercatat Rp 1.764,4 triliun dan belanja negara Rp 1.657 triliun.

Di samping itu, dengan surplus dan penerbitan utang yang jauh lebih rendah, menjadikan strategi APBN sangat sesuai dengan tantangan yang berasal dari cost of fund yang tinggi, guncangan sektor keuangan, serta tren kenaikan suku bunga dan penguatan dolar AS.

Sri Mulyani mengatakan, bahwa surplus APBN tersebut melanjutkan tren dari yang terjadi pada bulan-bulan sebelumnya. Diketahui surplus hingga Agustus 2022 tersebut bahkan lebih tinggi dibandingkan posisi bulan lalu yang senilai Rp 106,1 triliun.

Baca juga Pajak dan Pemulihan Ekonomi

Melalui Peraturan Presiden Republik Indonesia Nomor 98 Tahun 2022, defisit APBN 2022 yang semula dirancang senilai Rp 868 triliun atau sebesar 4,85% PDB, kini mengalami penurunan menjadi Rp 840 atau sebesar 4,5% PDB. Menurut outlook pemerintah, realisasi sampai dengan akhir tahun diperkirakan hanya Rp 732,2 triliun atau sebesar 3,92% PDB.

Sri Mulyani juga menyampaikan pendapatan negara hingga Agustus 2022 mengalami pertumbuhan sampai dengan 49,8%, sedangkan belanja negara mengalami pertumbuhan sampai dengan 6,2%. Serta, pendapatan negara senilai Rp 1.764 triliun tersebut ditopang oleh penerimaan pajak.

Baca juga Pemerintah Ingatkan Untuk Kejar Setoran Pajak

Lebih lanjut, penerimaan perpajakan tercatat senilai Rp 1.378 triliun, yang meliputi penerimaan pajak Rp 1.71,8 triliun serta kepabeanan dan cukai Rp 206,2 triliun. Sementara itu, realisasi penerimaan negara bukan pajak (PNBP) sudah mencapai Rp 386 triliun.

Kemudian, dari sisi belanja realisasinya sudah mencapai Rp 1.657 triliun yang meliputi belanja pemerintah pusat Rp 1.178,1 triliun serta belanja transfer ke daerah dan dana desa Rp 478,9 triliun.

Sri Mulyani menambahkan bahwa surplus APBN hingga Agustus 2022 juga membuat pembiayaan anggaran mengalami penurunan menjadi 46%. Pemerintah pun akan terus menggunakan APBN sebagai shock absorber di tengah kenaikan harga komoditas, terutama energi.