Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menilai gejolak geopolitik internasional hingga saat ini belum memberikan dampak signifikan terhadap stabilitas keuangan Indonesia. Ia pun memastikan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) masih cukup kuat untuk menghadapi berbagai tekanan ekonomi global.
Menurutnya, dampak dari konflik tersebut umumnya akan terlihat lebih dahulu pada sektor ekspor serta pergerakan harga minyak dunia. Meski demikian, pemerintah telah melakukan berbagai simulasi untuk mengantisipasi kemungkinan kenaikan harga minyak terhadap kondisi APBN.
Baca Juga: Konflik AS–Iran Memanas, Bagaimana Dampaknya terhadap Ekonomi Indonesia?
APBN Dinilai Masih Terkendali
Purbaya mengungkapkan bahwa pemerintah telah menghitung berbagai skenario kenaikan harga minyak mentah dunia untuk mengantisipasi dampaknya terhadap anggaran negara.
Beberapa poin utama yang disampaikan, antara lain:
- Pemerintah telah melakukan simulasi terhadap berbagai kemungkinan kenaikan harga minyak dunia
- APBN dinilai masih mampu menyerap kenaikan harga minyak hingga 92 dolar AS per barel
- Kenaikan harga minyak pada level tertentu masih dapat dikendalikan melalui pengelolaan anggaran
- Pemerintah akan melakukan evaluasi ulang jika lonjakan harga minyak terjadi secara ekstrem
“Kalau harga minyak sampai 92 dolar AS per barel pun kita masih bisa mengendalikan anggaran, jadi tidak ada masalah,” ujar Purbaya setelah menghadiri pertemuan dengan Presiden Prabowo Subianto di Kompleks Istana Kepresidenan, Selasa (3/3/2026).
Meski demikian, pemerintah tetap menyiapkan langkah antisipatif apabila situasi global memburuk.
Penguatan Penerimaan Pajak Jadi Strategi
Salah satu risiko yang diperhitungkan pemerintah adalah gangguan jalur distribusi energi dunia. Misalnya, jika terjadi penutupan Selat Hormuz yang dapat berdampak pada pasokan dan harga impor minyak.
Jika kondisi tersebut terjadi, harga impor energi berpotensi meningkat dan dapat menekan defisit anggaran. Untuk mengantisipasi hal tersebut, pemerintah berupaya memperkuat penerimaan negara, terutama dari sektor perpajakan dan kepabeanan.
Strategi yang dilakukan pemerintah meliputi:
- Memastikan pengumpulan pajak berjalan optimal
- Mengoptimalkan penerimaan dari sektor kepabeanan dan cukai
- Meminimalkan potensi kebocoran penerimaan negara
- Meningkatkan pengawasan terhadap proses pengumpulan pajak
- Memperkuat koordinasi antara otoritas pajak dan Bea Cukai
“Kita pastikan pengumpulan pajak dan Bea Cukai tidak ada yang bocor. Itu sudah bisa mengurangi tekanan terhadap defisit,” jelas Purbaya.
Setelah memastikan penerimaan negara berjalan optimal, pemerintah akan menghitung kembali dampak lanjutan yang mungkin terjadi dan menyiapkan langkah kebijakan tambahan bila diperlukan.
Baca Juga: Perjanjian RI–AS Batasi Pajak Digital, Bagaimana Dampaknya bagi Penerimaan Negara?
Penerimaan Pajak dan Bea Cukai Tumbuh 30%
Di sisi lain, pemerintah memang mencatat adanya peningkatan kinerja penerimaan pada awal tahun 2026. Penerimaan pajak dan bea cukai pada periode Januari hingga Februari 2026 menunjukkan pertumbuhan yang cukup signifikan.
Beberapa catatan penting terkait penerimaan negara tersebut, antara lain:
- Penerimaan pajak dan bea cukai tumbuh sekitar 30% pada awal tahun 2026
- Pertumbuhan ini menjadi salah satu indikator perbaikan aktivitas ekonomi nasional
- Peningkatan penerimaan juga mencerminkan membaiknya kepatuhan wajib pajak
- Kinerja penerimaan negara menjadi faktor penting dalam menjaga ketahanan APBN
Menurut Purbaya, peningkatan penerimaan negara ini memberikan ruang fiskal yang lebih baik bagi pemerintah dalam menghadapi ketidakpastian global.
Permintaan Domestik Jadi Penopang Ekonomi
Pemerintah juga optimistis ekonomi Indonesia tetap memiliki daya tahan yang kuat. Hal ini karena perekonomian nasional masih sangat ditopang oleh permintaan domestik.
Purbaya menyebut sekitar 90% aktivitas ekonomi Indonesia berasal dari konsumsi dan permintaan dalam negeri. Beberapa faktor yang mendukung ketahanan ekonomi nasional, antara lain:
- Kontribusi permintaan domestik mencapai sekitar 90% terhadap perekonomian
- Konsumsi dalam negeri masih menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi
- Aktivitas ekonomi domestik dinilai relatif stabil di tengah ketidakpastian global
- Pemerintah terus menjaga stabilitas ekonomi melalui kebijakan fiskal
“Ekonomi kita masih bisa maju. Selama permintaan domestik yang kontribusinya sekitar 90 persen terhadap ekonomi bisa dijaga, kita juga masih bisa bertahan,” kata Purbaya.
Ia menambahkan bahwa pemerintah akan terus melakukan simulasi terhadap berbagai kemungkinan yang dapat memengaruhi APBN sepanjang tahun anggaran berjalan. Jika kenaikan harga minyak masih berada pada level yang wajar, dampaknya masih dapat diserap oleh APBN.
Namun, apabila lonjakan harga minyak terjadi secara ekstrem, pemerintah akan melakukan perhitungan ulang untuk menyesuaikan kebijakan fiskal agar stabilitas anggaran tetap terjaga.







