Apa Itu Stagflasi?

Stagflasi sudah berulang kali terjadi di beberapa negera maju sejak krisis pada tahun 1970-an silam. Beberapa pengamat ekonomi dunia berpendapat bahwa periode stagflasi di beberapa negeri kemungkinan dapat terjadi pada tahun 2022.

Salah satunya Presiden Bank Dunia, David Malpass yang pada pertengahan tahun ini menghimbau kepada seluruh negara di dunia untuk mewaspadai risiko stagflasi di tengah ketidakpastian global.

Dia menyampaikan bahwa kondisi ini dipengaruhi oleh situasi geopolitik antara Rusia dengan Ukraina yang tengah memanas serta pembatasan kegiatan masyarakat akibat pandemi Covid-19 yang mengganggu rantai pasokan. Lantas, apa sebenarnya stagflasi itu? Yuk, mari kita simak artikel berikut ini!

 

Pengertian Stagflasi

Stagflasi merupakan kondisi ekonomi yang ditunjukkan dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah dan angka pengangguaran yang tinggi di waktu bersamaan dalam periode tertentu. Kondisi ini biasanya diikuti dengan kenaikan harga-harga barang pokok atau inflasi.

Stagflasi juga dapat diartikan sebagai kondisi pada sebuah periode inflasi yang dikombinasikan dengan penurunan Produk Domestik Bruto (PDB).

Istilah stagflasi berasal dari kata ‘stagnasi’ yang artinya menurunnya kondisi ekonomi, dan kata ‘flasi’ yang berasal dari kata ‘inflasi’ yang artinya naiknya harga-harga barang pokok secara terus menerus.

Dalam sejarahnya, istilah stagflasi pertama kali digunakan pada tahun 1060-an oleh politisi Inggris Macleod saat kondisi ekonomi Inggris tengah mengalami tekanan kala itu. Saat memberikan pidato di depan Dewan Rakyat Britania Raya kala itu, Macleod menyebut kondisi inflasi sekaligus stagnasi yang terjadi di Inggris disebut sebagai situasi stagflasi

Kemudian, istilah stagflasi kembali digunakan pada periode yang terjadi di tahun 1970-an seiring dengan krisis minyak yang terjadi ketika Amerika Serikat mengalami pertumbuhan PDB negatif selama lima kuartal berturut-turut.

Terjadi juga inflasi yang tumbuh dua kali lipat pada tahun 1973 dan menembus double digit pada tahun 1974. Di sisi lain, tingkat pengangguran Amerika Serikat kala itu mencapai 9% pada Mei 1975.

Lebih lanjut, stagflasi biasanya akan menyebabkan kenaikan indeks kesengsaraan atau misery index. Indeksi ini merupakan ukuran sederhana yang berasal dari tingkat inflasi dan pengangguran, yang digunakan untuk menunjukkan seberapa buruk kondisi masyarakat ketiga stagflasi terjadi disebuah negara.

 

Penyebab Stagflasi

Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, stagflasi adalah kondisi ekonomi yang digambarkan dengan peningkatan pengangguran yang terjadi bersamaan dengan kenaikan harga-harga barang pokok, sehingga penyebab stagflasi ialah kondisi ekonomi yang melemah dan ditunjukkan dengan angka pengangguran yang tinggi atau stagnasi.

Di saat yang bersamaan itu pula terjadi kenaikan harga-harga barang pokok. Biasanya, stagflasi terjadi saat pasokan uang di pasar meningkat, sementara jumlah barang atau suplai terbatas. Berikut penjelasan selengkapnya mengenai penyebab stagflasi:

  • Kondisi Ekonomi yang Melemah

Kegiatan perekonomian di suatu negara atau antar negara berkaitan erat dengan harga bahan bakar minyak dan bahan pokok lainnya. Oleh karena itu, kenaikan harga minyak akan berpengaruh besar terhadap harga barang dan jasa. Seringkali, pemerintah atau bank sentral memberlakukan kebijakan untuk mengendalikan inflasi. Namun, kebijakan tersebut justru menekan pertumbuhan ekonomi sehingga terjadilah stagflasi.

  • Angka Pengangguran yang Tinggi

Selanjutnya, penyebab stagflasi ialah adanya peningkatan angka pengangguran yang dapat mengakibatkan melemahnya daya beli masyarakat. Dalam hal ini, angka pengangguran yang tinggi beriringan dengan kenaikan harga-harga barang pokok.

Ketika harga-harga barang dan jasa naik akibat ketersediaan barang terbatas, maka dapat terjadi inflasi. Saat itulah, masyarakat yang tidak mempunyai pekerjaan juga akan kesulitan untuk memenuhi kebutuhan pokoknya.

  • Uang yang Beredar Meningkat

Situasi stagflasi berkaitan erat juga dengan meningkatnya jumlah uang yang beredar di masyarakat. Ketika pemerintah dan bank sentral menerapkan kebijakan untuk meningkatkan jumlah uang beredar di masyarakat, dapat terjadi inflasi. Kebijakan tersebut dapat berupa bank sentral melakukan cetak uang dan mempermudah kredit dengan menurunkan suku bunga acuan.

 Baca juga Tekan Inflasi, Bank Indonesia Naikkan Suku Bunga Acuan Hingga 4,25 Persen

 

Dampak Stagflasi

Melemahnya kondisi perekonomian yang diiringi dengan angka pengagguran yang tinggi tentunya akan menimbulkan berbagai masalah ekonomi. Apabila kondisi ini tidak segera diatasi, tentunya akan membuat kondisi semakin memburuk dan berdampak negatif bagi suatu negara. Berikut ini adalah beberapa dampak yang disebabkan oleh stagflasi:

  • Menurunnya Daya Beli

Stagflasi ditandai dengan terjadinya inflasi yang menyebabkan kenaikan harga berbagai kebutuhan pokok. Jika kondisi ini terus menerus terjadi tentunya akan membuat daya beli masyarakat semakin menurun hingga menyebabkan pertumbuhan ekonomi menjadi lambat.

  • Merosotnya Pendapatan Perusahaan

Ketika daya beli masyarakat semakin menurun, perusahaan terpaksa harus menurunkan harga agar tetap dapat kompetitif dan bersaing dengan produsen lain. Dengan keadaan ini, maka keuntungan sektor bisnis yang meliputi industri, manufaktur, perdagangan, hingga perumahan dan jasa akan merosot tajam. Perusahaan pun mengalami kerugian, bahkan harus melakukan PHK karyawan demi bertahan.

  • Nilai Investasi Anjlok

Banyaknya perusaan yang mengalami kerugian tentu akan berdampak pada nilai saham yang ikut merosot tajam. Ketika harga saham di suatu negara anjlok, maka tidak ada pilihan lain bagi investor selain menjual semua sahamnya dan mengalihkannya ke aset keuangan lain.

 

Cara Mengatasi Stagflasi

Stagflasi tidak serta merta terus terjadi jika suatu negara dapat mengatasinya. Berikut beberapa cara yang dapat dilakukan untuk mengatasi stagflasi.

  • Kebijakan Penyesuaian Pajak

Sebagai usaha untuk mendotong pertumbuhan ekonomi, pemerintah dapat membuat kebijakan penurunan atau insentif pajak. Tentu hal ini dapat mendukung kegiatan investasi karena adanya insentif pajak dan pemotongan pajak korporasi. Misalnya, kebijakan tarif pajak kendaraan bermotor sebesar 0%, insentif PPN, atau insentif PPh bagi karyawan.

Selain itu, meningkatkanya penerimaan pajak untuk menekan tingkat inflasi sehingga terhindar dari stagflasi. Adapun, penyesuaian pajak tersebut berupa penurunan pajak di bidang pendidikan, kesehatan, dan harga bahan pokok. Dengan begitu, daya beli masyarakat akan meningkat.

  • Kebijakan Bagi Karyawan

Untuk mengatasi jumlah uang yang beredar dimasyarakat, perusahaan dapat melakukan pemotongan upah kerja bagi karyawannya. Cari ini menjadi salah satu upaya untuk menekan kenaikan tingkat inflasi.

Di samping itu, pemerintah juga harus mengurangi angka pengangguran. Meski sulit, ketersediaan lapangan pekerjaan juga sangat penting guna mengatasi stagflasi.

  • Diversifikasi Investasi di Aset yang Aman dan Terpercaya

Para investor perlu melakukan diversifikasi investasi dalam rangka mengamankan asetnya di tengah situasi perekonomian yang menurun. Dengan begitu, aset berharga yang dimiliki pun dapat terlindungi dengan aman.

Selain investasi reksadana, saham, dan surat berharga lainnya, investor dapat mengalokasikan sebagian penghasilannya ke instrumen investasi popular yang dikenal dengan sebutan safe haven adalah emas. Aset ini mampu melindungi nilai uang di masa mendatang.

Baca juga Ekonomi Global Melambat, Indonesia Akan Diversifikasi Tujuan Ekspor

 

Contoh Stagflasi

Contoh stagflasi dapat digambarkan dengan kondisi pemerintah di sebuah negera mencetak uang. Hal ini akan mengakibatkan peningkatkan jumlah uang dan inflasi, sekaligus menaikkan tarif pajak yang bakal memperlambat pertumbuhan ekonomi.

Contoh stagflasi atau stagnasi ekonomi di Indonesia sendiri pernah terjadi pada saat krisis ekonomi tahun 1998. Bersamaan ketika nilai tukar rupah yang anjlok terhadap dolar Amerika, harga barang di Indonesia kala itu melambung tinggi dan jumlah uang di masyarakat meningkat, serta menyebabkan nilai tukar menurun.