Shell Berencana Tutup 1000 SPBU, Simak Penyebab dan Pengaruhnya kepada Pasar

Salah satu grup perusahaan energi dan petrokimia global, Shell mengumumkan rencananya akan menutup sekitar 1.000 stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di beberapa negara sepanjang periode 2024-2025. Namun untuk di Indonesia, Shell dengan tegas menyatakan akan melanjutkan operasinya di sektor hilir minyak dan gas (migas).

Susi Hutapea, Wakil Presiden Hubungan Korporat Shell Indonesia, menyampaikan bahwa perusahaan akan tetap memproduksi dan memasarkan pelumas serta menjual bahan bakar minyak (BBM) di pasar Indonesia. Selain itu, Shell Indonesia juga sedang menggalakkan penggunaan bahan bakar rendah karbon. 

Indonesia menjadi pasar utama pertumbuhan bagi bisnis pelumas Shell. Pada Maret 2024, Shell telah memulai pembangunan Pabrik Manufaktur Gemuk atau Grease Manufacturing Plant (GMP) di Marunda dengan kapasitas total 120 kiloton per tahun. 

Pada November 2022, kapasitas pabrik pelumas Shell di Marunda (Lubricants Oil Blending Plant) telah ditingkatkan menjadi 300 juta liter per tahun. Pada tahun 2023, Shell juga memperkenalkan produk cairan pendingin imersi untuk mendukung industri pusat data yang sedang berkembang pesat di Indonesia. 

Baca juga: Pemerintah Kaji Kembali Pembatasan BBM Jenis Pertalite dan Solar

Di samping itu, Shell Lubricants Indonesia telah meluncurkan Shell Mysella S 7N Ultra, sebuah produk pelumas mesin gas stasioner yang bertujuan untuk meningkatkan kinerja industri tenaga listrik di Indonesia. Produk ini merupakan bagian dari solusi pelumas terintegrasi yang ditawarkan kepada pelanggan, menunjukkan kepercayaan Shell pada Indonesia serta komitmen perusahaan untuk mengembangkan bisnis pelumas dan memenuhi permintaan pasar di Indonesia. 

Dalam bisnis SPBU, pada Januari 2024, Shell memperkenalkan layanan terintegrasi di SPBU Shell Soepomo melalui Shell Café serta fasilitas lainnya untuk meningkatkan kenyamanan pelanggan. Pada Juni 2023, Shell juga memperkenalkan bahan bakar performa terbaik Shell V-Power di Indonesia, yang menggunakan teknologi terbaru untuk membersihkan 100% endapan yang dapat menghambat kinerja mesin. 

Sebagaimana telah diumumkan sebelumnya, kantor pusat Shell berencana untuk menutup sekitar 1.000 SPBU di beberapa negara hingga tahun 2025 sebagai bagian dari strategi transisi energi perusahaan. Sebagai gantinya, Shell berencana untuk melakukan investasi yang lebih besar pada Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum (SPKLU) hingga tahun 2030, dengan target jumlah investasi pada sekitar 500 SPKLU setiap tahun antara 2024 dan 2025. 

Meskipun jumlahnya relatif kecil, perusahaan yang berbasis di London, Inggris ini menyatakan bahwa langkah ini merupakan bagian dari perubahan fokus perusahaan yang bertujuan untuk mendukung peningkatan permintaan stasiun pengisian kendaraan listrik untuk umum. Shell tidak memberikan detail tentang lokasi SPBU yang akan ditutup, namun memberikan informasi tentang penambahan SPKLU. 

Shell berencana untuk meningkatkan jumlah operasi SPKLU di seluruh dunia menjadi 200.000 unit hingga tahun 2030. Saat ini, Shell telah mengoperasikan 54.000 SPKLU di berbagai negara. Perusahaan ini lebih memilih untuk berinvestasi pada SPKLU daripada layanan pengisian di rumah karena dianggap lebih menguntungkan dalam hal lokasi, terutama karena jejaring stasiun layanan Shell merupakan salah satu yang terbesar di dunia.  

Pengaruh Penutupan SPBU Shell Terhadap Pasar Indonesia

Penutupan sejumlah SPBU Shell di Indonesia akan berdampak pada dinamika pasar bahan bakar di negara ini. Meskipun Shell menegaskan akan tetap berinvestasi dalam bisnis hilir minyak dan gas (migas) serta produk pelumas di Indonesia, penutupan SPBU dapat mengubah lanskap persaingan di sektor ini.

Salah satu dampak yang mungkin terjadi adalah peningkatan persaingan di antara SPBU lain yang masih beroperasi. Dengan berkurangnya jumlah SPBU Shell, pemain-pemain lain seperti Pertamina, Total, dan SPBU independen kemungkinan akan mengalami peningkatan volume pelanggan. Ini dapat menghasilkan persaingan harga yang lebih ketat dan inovasi layanan untuk menarik pelanggan baru. 

Selain itu, penutupan SPBU Shell juga dapat mempercepat adopsi kendaraan listrik di Indonesia. Dengan kehadiran SPKLU yang semakin banyak, serta investasi yang diperkirakan akan dilakukan oleh Shell dan perusahaan lain dalam infrastruktur pengisian listrik, konsumen dapat merasa lebih termotivasi untuk beralih ke kendaraan listrik sebagai alternatif yang ramah lingkungan dan ekonomis. 

Baca juga: Pertamina Usulkan Larangan BBM Subsidi bagi Penunggak Pajak Kendaraan

Namun, perlu diingat bahwa transisi ke kendaraan listrik juga dapat menimbulkan tantangan bagi industri migas tradisional. Penurunan permintaan bahan bakar konvensional dapat mengancam pendapatan SPBU yang bergantung pada penjualan BBM. Oleh karena itu, pemain industri migas di Indonesia mungkin harus mengadaptasi model bisnis mereka untuk mengakomodasi perubahan tren konsumen ini. 

Selain itu, penutupan SPBU Shell juga dapat memberikan peluang bagi SPBU independen atau usaha patungan untuk mengisi kekosongan pasar yang ditinggalkan oleh Shell. Dengan memperluas jaringan mereka dan menawarkan layanan yang inovatif, SPBU lain dapat memperoleh pangsa pasar yang lebih besar dan meningkatkan daya saing mereka di tengah perubahan ini. 

Dengan demikian, penutupan SPBU Shell di Indonesia tidak hanya akan memiliki dampak langsung pada perusahaan itu sendiri, tetapi juga akan menciptakan perubahan yang signifikan dalam ekosistem pasar bahan bakar di Indonesia secara keseluruhan. Perubahan ini akan mempengaruhi pemain industri, konsumen, dan kebijakan pemerintah terkait energi dan lingkungan hidup.