Sebut Ekonomi Indonesia Bisa Tumbuh 5%, Walau Inflasi Akan Tinggi

Pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun diprakirakan akan tetap kuat meski dibayangi risiko inflasi yang tinggi. Benarkah ekonomi Indonesia bisa tumbuh lebih dari 5% pada 2022?

Ekonom Bank Mandiri Faisal Rachman mengatakan, sektor konsumsi rumah tangga akan menjadi pendorong utama pertumbuhan ekonomi Indonesia hingga akhir tahun. Namun, banyak pihak yang khawatir bahwa tingkat inflasi yang tinggi akan tetap menjadi tantangan bagi perekonomian ke depan.

Pada Juli 2022, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat laju inflasi domestik mencapai 4,94% year-on-year, melebihi target Bank Indonesia sebesar 2-4%. Faisal mengatakan tingkat inflasi yang telah melampaui kisaran sasaran inflasi tentu dapat mempengaruhi daya beli rumah tangga sampai batas tertentu. Namun, berlanjutnya aktivitas ekspor yang kuat, didorong oleh harga komoditas global yang lebih tinggi dapat mendorong pendapatan ekspor dan penerimaan pajak.

Baca juga Kenaikan BBM Pengaruhi Masyarakat Membayar Pajak, Apa Benar?

Hal ini memungkinkan pemerintah untuk meningkatkan subsidi energi dan mengalokasikan bantuan sosial sehingga konsumsi rumah tangga dapat dipertahankan,” katanya, Rabu (3 Agustus 2022).

Penerimaan pemerintah dari tingginya harga komoditas utama Indonesia juga dapat mengurangi defisit fiskal menuju konsolidasi fiskal pada 2023. “Dengan permintaan domestik yang baik, pertumbuhan ekspor yang stabil, keuangan Dengan penguncian yang bijaksana dan manajemen Covid-19 yang kuat, kami melihat ekonomi Indonesia masih berpeluang tumbuh sekitar 5,17% pada tahun 2022,” ujarnya. Faisal juga memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II tahun ini akan melebihi 5% per tahun (year-on-year).

Baca juga Harga Pangan Bergejolak, Sri Mulyani Sebut Perlu Dikendalikan

Penggerak utama pertumbuhan ekonomi selama periode tersebut diperkirakan berasal dari sektor konsumsi rumah tangga. Hal ini tercermin dari permintaan domestik yang diperkirakan akan terus membaik di tengah pelonggaran PPKM, serta faktor musiman selama Ramadhan dan Lebaran yang mendukung pergerakan dan peredaran uang masyarakat yang buruk.

Selain itu, pertumbuhan tahunan total fixed capital formation (GTCF) atau investasi juga diperkirakan tetap solid, seiring dengan pertumbuhan kredit. “Aktivitas ekspor juga diperkirakan akan tetap solid, dengan pertumbuhan dua digit year-on-year, terutama didorong oleh permintaan eksternal yang berkelanjutan dan peningkatan ekspor,” katanya dari sektor pariwisata.