Berdasarkan proyeksi dari Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia, peredaran uang selama periode libur Lebaran tahun 2024 diprediksi mencapai angka yang mencengangkan dengan estimasi mencapai Rp157,3 triliun. Angka ini menjadi titik fokus dalam memahami dampak ekonomi yang signifikan dari tradisi mudik di Indonesia.
Menurut keterangan Wakil Ketua Umum Kadin Indonesia Bidang Pengembangan Otonomi Daerah, Sarman Simanjorang, proyeksi ini disusun berdasarkan jumlah perkiraan pemudik serta rata-rata jumlah anggota keluarga yang melakukan perjalanan yang menunjukkan potensi pengeluaran yang besar selama musim liburan ini. Hal ini menandakan pentingnya untuk memahami bagaimana peredaran uang ini akan mempengaruhi berbagai sektor ekonomi dan wilayah di Indonesia, serta implikasinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional dan perekonomian daerah.
Proyeksi Kadin ini didasari oleh prediksi jumlah pemudik yang mencapai 193,6 juta orang, dengan rata-rata jumlah anggota keluarga sebanyak empat orang, sehingga jumlah keluarga yang melakukan perjalanan dapat setara dengan 48,4 juta keluarga.
Dengan asumsi bahwa setiap keluarga membawa uang tunai sebesar rata-rata Rp3,25 juta, maka total peredaran uang selama bulan Ramadan dan Idulfitri tahun 1445 Hijriyah diperkirakan mencapai Rp157,3 triliun. Namun, Sarman menambahkan bahwa jumlah tersebut masih berpotensi untuk meningkat karena kemungkinan adanya pergeseran angka minimal atau moderat.
Lebih lanjut, Sarman mengungkapkan bahwa peredaran uang tersebut akan menyebar di berbagai sektor usaha, termasuk ritel, fashion, makanan dan minuman, BBM, serta transportasi darat, laut, dan udara. Selain itu, sektor pariwisata juga akan menerima dampaknya, seperti hotel, motel, villa, restoran, café, minimarket, berbagai warung dan toko, destinasi wisata, taman hiburan, serta produk-produk unggulan lokal seperti makanan khas daerah, souvenir, batik, dan kain tradisional.
Baca juga: Pemerintah Siapkan Pasokan BBM dan Gas Bumi Selama Ramadan dan Idulfitri
Dalam konteks wilayah, peredaran uang ini diperkirakan akan tersebar di seluruh Indonesia, terutama di daerah-daerah tujuan utama mudik seperti Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat, Yogyakarta, Banten, dan wilayah Jabodetabek yang diproyeksikan mencapai 62% dari total penduduk. Sisanya akan tersebar di Sumatra, Kalimantan, Bali, NTB, Sulawesi, NTT, Maluku, dan Papua.
Sarman menilai bahwa peredaran uang yang signifikan ini dapat mendorong konsumsi rumah tangga, memberikan dampak positif pada perekonomian daerah, serta berpotensi mengerek pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun 2024, yang akan menjadi landasan untuk mencapai target pertumbuhan ekonomi tahun 2024 sebesar 5%. Selain itu, pendapatan asli daerah di daerah tujuan utama mudik juga diperkirakan akan meningkat, terutama dari pajak hotel, restoran, café, retribusi masuk destinasi wisata, dan sumber pendapatan lainnya selama libur lebaran.
Di sisi lain, Sarman mengharapkan dukungan dari pemerintah daerah untuk memperlancar arus mudik dan mengawasi agar para pengusaha di daerah tujuan tidak menaikkan harga secara signifikan yang dapat membuat para pemudik enggan untuk berbelanja. Dia juga menekankan pentingnya menjaga stabilitas harga, terutama dalam tarif masuk ke lokasi wisata, tarif penginapan, serta harga makanan dan minuman oleh-oleh. Selain itu, Sarman mendorong para pelaku usaha di daerah untuk menciptakan pengalaman berbelanja yang menyenangkan bagi para pemudik, sehingga mereka merasa lebih nyaman untuk berbelanja selama liburan.
Baca juga: Ingin Mudik? Yuk, Intip Kesiapan Jalur Mudik Lebaran tahun 2024
Di luar Jabodebek, Jawa menjadi wilayah dengan peredaran uang terbesar selama periode tertentu pada tahun 2023, hingga mencapai Rp 72 triliun. Jabodebek sendiri mencatat peredaran uang sebesar Rp 43,3 triliun. Wilayah lain dengan peredaran uang signifikan adalah Sumatera (Rp 36,7 triliun), Kalimantan (Rp12,6 triliun), Sulawesi Maluku dan Papua (Rp15,2 triliun), dan Bali Nusa Tenggara (Rp7,9 triliun).







