Stabilitas sistem keuangan di Indonesia pada kuartal II/2022 masih di posisi normal di tengah keberlangsungannya perang antara Rusia dan Ukraina. Hal ini pun diungkapkan juga oleh Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani Indrawati melalui hasil assessment Komite Stabilitas Sistem Kuangan (KSSK) pada bulan April lalu.
Beliau juga menjelaskan bahwa sistem keuangan saat ini sedang dalam pengaruh inflasi global yang terus meningkat. Selain itu, pada respons yang merujuk pada kebijakan moneter secara global yang jauh lebih agresif dibandingkan yang sebelumnya, dan semuanya disebabkan oleh invasi Rusia terhadap Ukraina sehingga menciptakan ketidakpastian pada ekonomi global.
Merujuk pada video konferensi (1/8/2022), pada sistem keuangan triwulan II/2022 tersebut menjadi daya tahan atau kemampuan stabilitas bagi KSSK untuk merasa optimis namun, tetap harus mengawasi perkembangan mengenai berbagai masalah atau risiko yang akan terjadi kedepannya. Dalam hal ini, KSSK juga memberikan perhatian secara khusus terhadap beberapa isu global yang terjadi saat ini, seperti pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan lebih rendah dari proyeksi sebelumnya, meningkatnya risiko stagflasi, dan ketidakpastian pasar keuangan.
Baca juga Butterfly Effect, Dampak Perang Pada Ekonomi Dunia
Tak hanya di Indonesia, di berbagai dunia pun ikut berdampak atas peristiwa tersebut, seperti Amerika Serikat yang telah menanggapi kasus peningkatan inflasi dengan memperkuat kebijakan moneter hingga menaikkan suku bunga, sehingga berdampak pada proses pemulihan ekonomi. Hal ini juga terjadi di sejumlah negara, mulai dari Jepang, Cina, Eropa, hingga India.
Menkeu Sri Mulyani kembali menyampaikan bahwa pada tahun ini World Bank dan IMF telah mengkoreksi proyeksi atas pertumbuhan ekonomi secara global, adapun rinciannya :
- World Bank awalnya ekonomi global diperkirakan tumbuh hingga 4,1%, maka untuk saat ini menjadi 2%.
- IMF awalnya ekonomi global diperkirakan tumbuh hingga 3,2%, maka untuk saat ini menjadi 3,6%.
Jika diliat pada sisi dalam negeri, Sri Mulyani menjelaskan perbaikan pada kinerja ekonomi akan diproyeksikan berlangsung hingga kuartal II/2022. Perbaikan tersebut juga didukung dengan peningkatan konsumsi, investasi, hingga sektor ekspor.
Baca juga Negara Tetangga RI Beri Stimulus Redam Inflasi
Bersamaan dengan itu, berbagai indikator juga berada pada nilai positif, yang mana IPR (Indeks Penjualan Riil) di bulan Juni lalu bertumbuh hingga 15,4%, dan ekspansif oleh PMI manufaktur yang mencapai 51,3 yang sebelumnya di angka 50,2. Hal ini tentunya memperlihatkan bahwa seluruh masyarakat secara optimis terhadap proses pemulihan ekonomi.
Selanjutnya, KSSK juga akan terus mengamati perkembangan inflasi yang terjadi di dalam negeri yang sejauh ini menunjukkan tren peningkatan. Pada bulan Juli lalu telah tercatat peningkatan menjadi sebesar 4,94% laju inflasi secara tahunan yang sebelumnya pada bulan Juni hanya sebesar 4,35%. Dalam hal ini pemerintah akan terus bersinergi dengan pihak Bank Indonesia (BI) perihal pengendalian terhadap inflasi.









