Perekonomian dunia diprediksi akan mengalami “kegelapan” pada tahun 2023 mendatang. Hal itu terjadi disebabkan oleh beberapa faktor yang dikenal dengan istilah The Perfect Storm, diantaranya seperti inflasi yang tinggi dan tak terkendali, sehingga menyebabkan terjadinya gangguan perekonomian mulai dari kontraksi ekonomi yang menuju resesi ekonomi hingga stagflasi.
Namun, apa sebenarnya yang menjadi faktor utama yang dapat menyebabkan dunia mengalami ekonomi gelap? apakah dampak dari gelapnya ekonomi global tersebut? Simak penjelasannya pada artikel berikut.
Penyebab Ekonomi Global 2023 Gelap
Organisasi Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund (IMF) memprediksi salah satu faktor utama penyebab ekonomi global 2023 mengalami titik gelap, karena adanya resesi keuangan di beberapa negara yang disebabkan oleh tidak stabilnya pasar keuangan.
Direktur pelaksana IMF, Kristalina Georgieva dalam pidatonya pada Georgetown University di Amerika Serikat menyatakan bahwa diperkirakah bahwa negara-negara yang memberi sumbangan sepertiga ekonomi dunia mengalami kontraksi ekonomi setidaknya salam 2 kuartal berturut-turut yakni pada tahun 2022 hingga tahun 2023 mendatang.
Ia juga menyatakan, pertumbuhan ekonomi akan terasa seperti resesi dikarenakan pendapatan riil mengalami penyusutan serta harga-harga mengalami kenaikan. Secara garis besar, IMF memperkirakan kerugian output global yang diderita berkisar sebesar 4 triliun US Dolar selama tahun 2022 sampai dengan 2026. Hal tersebut menunjukkan terjadinya kemunduran yang cukup besar bagi ekonomi dunia.
Apa itu Resesi Ekonomi?
Resesi ekonomi merupakan suatu keadaan yang terjadi ketika aktivitas ekonomi mengalami penurunan yang signifikan dalam kurun waktu yang lama dan stagnan, mulai dari berbulan-bulan hingga bertahun-tahun dimana keadaan tersebut secara terus menerus menimbulkan dampak dalam kehidupan masyarakat.
Definisi lain mengenai resesi ekonomi yaitu suatu kondisi dimana perekonomian suatu negara sedang berada dalam kondisi yang buruk yang dapat dilihat dari Produk Domestik Bruto (PDB) yang bernilai negatif, pengangguran yang meningkat serta pertumbuhan ekonomi riil bernilai negatif selama 2 kuartal berturut-turut.
Pemicu Terjadinya Resesi Ekonomi?
Berikut ini merupakan beberapa faktor yang bisa menjadi pemicu terjadinya resesi ekonomi:
-
Guncangan Ekonomi
Salah satu faktor penyebab terjadinya resesi ekonomi adalah adanya guncangan perekonomian yang terjadi seketika atau mendadak. Seperti sebelumnya, saat dunia dilanda pandemi covid-19. Hal tersebut ditandai dengan lemahnya daya beli masyarakat yang diakibatkan oleh kesulitan finansial.
-
Perkembangan Teknologi
Perlu diketahui, resesi tak hanya disebabkan oleh faktor yang berkaitan dengan ekonomi saja, teknologi juga dapat menjadi pemicu resesi ekonomi, dengan adanya revolusi industri seperti berkembangnya kecerdasan buatan atau yang lebih dikenal dengan Artificial Intelligence (AI) yang akan banyak menggantikan pekerjaan yang sebelumnya dikerjakan oleh manusia. Jika hal tersebut terjadi, akan mengakibatkan banyak orang berpotensi akan dirumahkan dan menjadi pengangguran, sehingga resesi ekonomi tak dapat terhindarkan.
-
Adanya Inflasi
Jika kita kembali mengingat ketika tahun 2020 lalu dunia mengalami resesi ekonomi akibat pandemi covid-19 yang memberikan dampak yang luar biasa, jika sekarang tingginya angka inflasi akibat harga dari sejumlah komoditas energi dan bahan baku yang melambung naik juga dapat menjadi faktor yang menyebabkan terjadinya resesi ekonomi.
-
Adanya Deflasi
Memang benar apapun yang mengalami peningkatan maupun penurunan yang sangat signifikan akan memberikan dampak buruk. Sama halnya, jika suatu perekonomian mengalami deflasi. Keadaan ini ditandai dengan menurunnya harga barang maupun jasa. Mungkin deflasi dianggap dapat meningkatkan daya beli masyarakat, karena harga yang ditawarkan mudah dijangkau oleh kondisi keuangan masyarakat yang bersangkutan, namun perlu diketahui jika terjadi secara berlebih maka akan merugikan penyedia jasa dan arang tersebut.
-
Tingginya Suku Bunga
Inflasi yang melambung tinggi akan mendorong Bank Sentral untuk melakukan kenaikan pada suku bunga. 2 hal tersebut dapat diperparah dengan daya beli masyarakat yang mulai menurun yang nantinya dapat menjadi faktor penyebab terjadinya resesi ekonomi.
Baca juga Perekonomian 2023 Gelap, Ini 5 Hal yang Harus Kamu Siapkan
Bagaimana Dampak Resesi Ekonomi Global?
Kondisi perekonomian akan sangat terdampak jika terjadi resesi ekonomi secara global. Berikut penjelasan dari dampak resesi ekonomi global yang dapat terjadi baik bagi pemerintah hingga bagi para pekerja:
-
Dampak Resesi Ekonomi Bagi Pemerintah
Pendapatan negara yang bersumber dari pajak dan non pajak menjadi lebih rendah akibat terjadinya resesi ekonomi. Hal ini dikarenakan pendapatan masyarakat mengalami penurunan hingga harga barang dan properti turun pula. Pada akhirnya, memicu rendahnya jumlah PPN yang disetor ke kas negara.
Ketika pendapatan negara menurun, pemerintah tetap dituntut membuka lapangan kerja sebanyak-banyaknya karena jumlah pengangguran yang meningkat. Dampak lainnya yaitu pinjaman ke bank asing juga meningkat yang nantinya mengakibatkan defisit anggaran serta tingginya utang pemerintah.
-
Dampak Resesi Ekonomi Bagi Perusahaan
Perusahaan juga akan terdampak akibat resesi ekonomi yang ditandai dengan daya beli masyarakat yang menurun dan pendapatan perusahaan yang semakin kecil. Kondisi tersebut akan memberi ancaman pada kelancaran arus kas. Selanjutnya, akan terjadi perang harga yang menjadi opsi agar perusahaan terhindar dari kebangkrutan. Umumnya, perusahaan akan menutup area bisnis yang kurang menguntungkan hingga memangkas biaya operasional.
-
Dampak Resesi Ekonomi Bagi Pekerja
Banyaknya area bisnis yang kurang menguntungkan yang ditutup serta pemotongan biaya operasional akan mengakibatkan banyaknya pemutusan hubungan kerja antara perusahaan dengan karyawannya. Jika PHK banyak terjadi, maka tentunya pengangguran sudah dapat dipastikan akan meningkat pula.
Beberapa negara di kawasan Asia khususnya Asia Tenggara yang masih cukup kuat menghadapi resesi tahun depan, Indonesia masuk salah satunya. Di Asia Tenggara Bank Pembangunan Asia (ADB) melihat rata-rata pertumbuhan ekonomi diproyeksi berkisar di angka 5% pada tahun 2023. Proyeksi ini telah turun dibandingkan dengan yang dirilis sebelumnya sebesar 5,2%. Pertumbuhan ini termasuk pertumbuhan yang tinggi dibandingkan dengan proyeksi pertumbuhan ekonomi dunia dari Bank Dunia.
Baca juga Sri Mulyani Sebut G20 Pantau Goncangan Ekonomi Dunia Hingga 2024
Bank dunia telah meramal perekonomian global akan mengalami penyusutan hingga menyentuh angka 1,9% menjadi 0,5% pada tahun 2023. Kemudian pada 2024 ekonomi dunia akan kembali mengalami penurunan menjadi 2%. Lalu, negara mana saja di ASEAN yang diperkirakan tetap dapat bertahan dari serangan ekonomi gelap atau resesi ekonomi pada 2023, sebagai berikut:
-
Filipina
Filipina diperkirakan akan mencetak pertumbuhan ekonomi sebesar 6,3% pada 2023. Pemulihan ekonomi negara tersebut didukung oleh penguatan investasi serta konsumsi domestik. Selain itu, pemulihan ekonomi di Filipina dipengaruhi oleh faktor tren turun dalam kasus covid-19 dan pelonggaran mobilitas masyarakat.
-
Vietnam
Bank Pembangunan Asia memperkirakan pertumbuhan ekonomi Vietnam akan tumbuh sebesar 6,7% di tahun 2023. ADB menyatakan Vietnam berkinerja cukup baik di tengah ketidakpastian ekonomi global.
-
Kamboja
Bank Pembangunan Asia memproyeksikan pertumbuhan ekonomi negara Kamboja sebesar 6,2%. Ekonomi negara tersebut ditopang oleh kinerja manufaktur yang kuat, dari produksi garmen hingga alas kaki yang mendorong pertumbuhan ekonomi Kamboja.
-
Indonesia
Perekonomian Indonesia diperkirakan tumbuh sebesar 5% pada tahun 2023. Hal ini sesuai dengan kondisi eksternal yang penuh ketidakpastian. Kondisi Ini, menurut Bank Pembangunan Asia dapat mempengaruhi kinerja ekspor Indonesia.
-
Malaysia
Perekonomian Malaysia diproyeksikan tumbuh sebesar 4,7% pada tahun 2023. Dengan demikian itulah wilayah di ASEAN yang dipastikan menjadi wilayah yang masih tumbuh positif pada tahun 2023 yang bisa diperkirakan aman dari keadaan resesi ekonomi global.









