Badan Pusat Statistik (BPS) menyampaikan mulai terjadi tren penurunan harga komoditas unggulan Indonesia.
Deputi Bidang Statistik Distribusi Dan Jasa Badan Pusat Statistik (BPS) Setianto menyebutkan penurunan harga tersebut diantaranya terjadi pada minyak kelapa sawit mentah (crude palm oil atau CPO) dan feronikel. Menurutnya, penurunan harga tersebut menjadi tanda berakhirnya momen windfall dari harga komoditas di pasar global.
Setianto menyampaikan bahwa ekspor Indonesia tumbuh impresif sepanjang Januari 2022 hingga Juli 2022, yaitu mencapai 36,36%. Kondisi tersebut lebih didorong oleh peningkatan harga komoditas ekspor, khususnya pada komoditas utama Indonesia.
Setianto juga menilai kinerja ekspor yang positif tersebut tidak disertai peningkatan volume yang signifikan. Dengan demikian, nilai ekspor akan otomatis melambat saat harga berbagai komoditas utama Indonesia mulai menurun.
Baca juga Penerimaan PPN dan PPnBM Turun, Waspada Komoditas Melemah
Setianto memaparkan, harga crude palm oil (CPO) mengalami penurunan yang cukup tajam dari US$1.062,99 per metrik ton pada Januari 2022 ke level US$1.056,6 per metrik ton pada Juli 2022. Sedangkan, untuk volume ekspornya pada Juli 2022 tercatat sebanyak 2,2 juta metrik ton.
Sejak Juni 2022 lalu, pemerintah menyelenggarakan percepatan ekspor atau flush out atas CPO dan produk turunannya. Upaya tersebut dilakukan untuk meningkatkan harga TBS kelapa sawit di tingkat petani.
Dalam program flush out itu juga, pemerintah melakukan penurunan tarif pungutan ekspor terhadap 19 dari 26 jenis produk CPO. Akan tetapi, pada 15 Juli sampai dengan 31 Agustus 2023 pemerintah memberikan kebijakan atas ekspor CPO beserta dengan produk turunannya dikenakan tarif pungutan sebesar US$0.
Baca juga Apakah Penerimaan Pajak Komoditas Palsu?
Sebagai informasi, harga nikel juga mengalami penurunan sejak Maret 2022. Diketahui saat ini, harga nikel berada di US$21.005 per metrik ton.
Selain CPO dan nikel, komoditas yang mengalami penurunan harga adalah minyak mentah dan gas alam. Untuk minyak mentah saat ini berada di harga US$105,1 per barel yang artinya mengalami penurunan sebesar 10,03% secara month on month (mom). Meski demikian, harga minyak mentah masih mengalami peningkatan sebesar 43,40% secara year on year (yoy).
Kemudian, untuk gas alam mengalami penurunan sejak Juni 2022 sebesar 5,45% (MoM) sehingga saat ini harganya US$7,3 per mmbtu. Namun, gas alam juga masih mengalami peningkatan sebesar 90,80% (YoY).









