Realisasi Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) hingga Januari 2026 mencatat defisit sebesar Rp54,6 triliun. Angka ini setara dengan 0,21% dari Produk Domestik Bruto (PDB).
Jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu, defisit tersebut meningkat signifikan. Pada Januari 2025, defisit APBN tercatat sebesar Rp23 triliun atau 0,09% dari PDB. Artinya, secara tahunan defisit tumbuh sekitar 127,4%.
“Posisi defisit anggaran tercatat mencapai Rp54,6 triliun atau hanya 0,21% dari PDB. Angka ini masih sangat terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026,” ujar Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, Senin (23/2/2026).
Apa Penyebab Defisit Januari 2026?
Defisit terjadi karena realisasi belanja negara lebih tinggi dibandingkan pendapatan negara. Berikut rinciannya:
- Pendapatan Negara: Rp172,7 triliun
- Belanja Negara: Rp227,3 triliun
Selisih antara keduanya menghasilkan defisit Rp54,6 triliun.
Baca Juga: Penerimaan Pajak Januari 2026 Tumbuh 30,8%, Purbaya Yakin Defisit APBN Terkendali
Pendapatan Negara Tumbuh, Pajak Melonjak 30,7%
Secara keseluruhan, pendapatan negara tumbuh 9,5% secara tahunan. Pertumbuhan ini terutama ditopang oleh penerimaan pajak. Rinciannya sebagai berikut:
- Penerimaan pajak: Rp116,2 triliun (tumbuh 30,7%)
- Kepabeanan dan cukai: Rp22,6 triliun (turun 14%)
- Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP): Rp33,9 triliun (turun 20,4%)
Menurut Purbaya, lonjakan penerimaan pajak mencerminkan perbaikan ekonomi serta peningkatan efisiensi dalam pengumpulan pajak.
“Ini ada perbaikan ekonomi dan perbaikan dari efisiensi pengumpulan pajak. Saya harap ini berlanjut terus,” jelasnya.
Belanja Negara Akseleratif di Awal Tahun
Dari sisi belanja, pemerintah mencatat pertumbuhan sebesar 25,7% dibandingkan Januari tahun lalu. Akselerasi ini dilakukan sejak awal tahun untuk mendukung berbagai program prioritas.
Belanja negara difokuskan untuk:
- Mendukung program prioritas nasional
- Menjaga daya beli masyarakat
- Mendorong pertumbuhan ekonomi pada kuartal I/2026
Dengan komposisi tersebut, meskipun defisit meningkat secara tahunan, pemerintah menegaskan bahwa kondisi fiskal tetap terkendali dan masih berada dalam batas aman sesuai perencanaan APBN 2026.
Baca Juga: Defisit APBN 2025 Tetap Aman meski Target Pajak Diproyeksi Meleset
FAQ Seputar Defisit APBN Januari 2026
1. Berapa defisit APBN per Januari 2026?
Defisit APBN per Januari 2026 tercatat sebesar Rp54,6 triliun atau setara dengan 0,21% dari PDB.
2. Mengapa defisit APBN Januari 2026 meningkat?
Defisit meningkat karena belanja negara (Rp227,3 triliun) lebih besar dibandingkan pendapatan negara (Rp172,7 triliun). Secara tahunan, defisit tumbuh sekitar 127,4% dibanding Januari 2025.
3. Apakah defisit Rp54,6 triliun masih aman?
Menurut Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa, angka tersebut masih terkendali dan berada dalam koridor desain APBN 2026.
4. Bagaimana kinerja penerimaan pajak Januari 2026?
Penerimaan pajak mencapai Rp116,2 triliun dan tumbuh 30,7% secara tahunan. Kenaikan ini didorong oleh perbaikan ekonomi dan peningkatan efisiensi pengumpulan pajak.
5. Untuk apa belanja negara di awal 2026 difokuskan?
Belanja negara difokuskan untuk:
- Mendukung program prioritas pemerintah
- Menjaga daya beli masyarakat
- Mendorong pertumbuhan ekonomi kuartal I/2026
Dengan strategi tersebut, pemerintah berharap pertumbuhan ekonomi tetap terjaga meskipun terjadi defisit pada awal tahun.







