Pertumbuhan ekonomi Indonesia saat ini telah dipengaruhi oleh berbagai faktor dengan salah satunya adalah Produk Domestik Bruto (PDB). Dengan kenaikan PDB yang tinggi, jumlah produksi di negara tersebut juga semakin tinggi yang berarti bahwa daya beli masyarakat suatu negara akan meningkat.
Produk Domestik Bruto (PDB) inilah yang akan dipengaruhi oleh tax multiplier (pengganda pajak) untuk menaikkan atau menurunkan angka PDB dalam menentukan daya beli masyarakat melalui perubahan pajak.
Tax multiplier ini merupakan salah satu bagian dari multiplier effect, yaitu dampak yang muncul ketika suatu tindakan terjadi. Dalam ekonomi, multiplier effect merupakan dasar kenaikan atau penurunan suatu pendapatan nasional yang disebabkan oleh pengeluaran atau investasi modal.
Hal ini tentu digunakan negara dalam merumuskan kebijakan fiskal sebagai penyeimbang produk domestik bruto agar tetap meningkat. Salah satu tindakan mengubah pajak inilah yang dijadikan solusi dalam meningkatkan pendapatan negara melalui perhitungan yang disebut tax multiplier.
Definisi Tax Multiplier
Tax multiplier merupakan salah satu faktor yang menentukan tingkatan dari produk domestik bruto melalui kenaikan atau penurunan pajak. Faktor ini menentukan keputusan pemerintah dalam merubah pajak secara baik dan tepat agar meminimalisir dampak yang terjadi.
Contoh dalam peningkatan permintaan agregat sebesar 20% belum tentu dilakukan penurunan pajak sebesar 20% karena ketika kita menerima pendapatan lebih banyak, maka secara naluri hanya sebagian pendapatan yang akan digunakan dan sebagian lagi akan di simpan. Sementara itu, peningkatan permintaan agregat dapat dilakukan ketika pendapatan tersebut digunakan dan pendapatan yang disimpan tidak akan mempengaruhi peningkatan permintaan agregat.
Dampak Tax Multiplier
- Dampak Langsung
Dampak pengganda pajak terhadap pendapatan negara umumnya disebut dengan dampak langsung. Dampak ini terjadi ketika pengeluaran negara meningkat, sehingga output yang keluar tentu harus lebih banyak. Hal ini akan terjadi hanya dengan meningkatan penerimaan negara yaitu pajak.
- Dampak Tidak Langsung
Dampak tidak langsung dari pengganda pajak memang tidak bisa dirasakan langsung, namun tentunya juga memiliki dampak terhadap produk domestik bruto. Sebagai contoh pendapatan lebih yang diterima pemerintah melalui pemanfaatan sumber daya alam akan tetap digunakan sebagai pengeluaran sektor lainnya.
- Dampak Lanjutan
Dampak lanjutan dapat mempengaruhi penerimaan negara misalnya melalui sektor migas yang disubsidi. Sehingga, keuntungan yang diperoleh masyarakat melalui subsidi migas tentu akan meningkatkan daya beli.
Cara Menghitung Tax Multiplier
Persamaan pengganda pajak atau tax multiplier adalah sebagai berikut:
- Marginal Propensity to Consume (MPC)
MPC adalah perbandingan antara peningkatan konsumsi dengan kenaikan pendapatan disposable. Dengan kata lain, jumlah pengeluaran yang terjadi pada suatu negara seiring dengan setiap tambahan Rp1 yang ditambahkan pada pendapatan negara.
- Marginal Propensity to Save (MPS)
MPS adalah perbandingan peningkatan tabungan dengan akibat adanya kenaikan pendapatan. Dengan kata lain, jumlah tabungan yang terjadi pada suatu negara seiring dengan setiap tambahan Rp1 yang ditambahkan pada pendapatan negara.
Rumus pengganda pajak ini juga memiliki tanda negatif di depan karena dengan meningkatnya pengeluaran maka terjadi penurunan pajak. MPC dan MPS akan selalu menghasilkan 1 jika dijumlahkan karena berapapun jumlah yang tidak ditabung maka akan sebagai pengeluaran, begitu pula sebaliknya.
Dengan kata lain, MPC dan MPS wajib menjadi 1 ketika djumlahkan karena suatu negara dapat mengeluarkan atau menyimpan hanya sebagian dari Rp1 tersebut.
Baca juga: Belajar Pajak: Mengenal Tax Loopholes
Contoh Tax Multiplier dalam Mengatasi Masalah Ekonomi
Sebagai contoh kita mengasumsikan bahwa pemerintah Indonesia akan meningkatkan pajak sebesar 50 triliun dengan MPC dan MPS masing masing sebesar 0,8 dan 0,2. Ingat, hasil dari keduanya harus menunjukkan angka 1.
Hasil tersebut menunjukkan bahwa, ketika pemerintah Indonesia ingin meningkatkan pajak sebesar 50 triliun, maka pengeluaran atau daya beli masyarakat akan menurun sebesar 200 triliun. Contoh pengganda pajak ini dapat menjadi informasi yang sangat penting bagi pemerintah Indonesia dalam mengatasi permasalahan ekonomi misalnya masalah inflasi atau resesi.
Jenis Multiplier Lain yang Mempengaruhi PDB
Selain pengganda pajak atau tax multiplier juga terdapat berbagai pengganda lainnya yang dapat mempengaruhi PDB pada suatu negara. Berikut 5 jenis multiplier selain tax multiplier.
1. Employment Multiplier
Pengganda pekerjaan menunjukkan besarnya tingkat kesediaan lapangan kerja yang dipengaruhi oleh suatu kebijakan. Dalam hal meningkatnya pengeluaran pemerintah, maka berdampak akan semakin banyaknya lapangan kerja yang tercipta.
2. Output Multiplier
Pengganda pengeluaran tentu dipengaruhi oleh pendapatan suatu negara. Misalnya ketika pengeluaran untuk membeli bahan baku masyarakat meningkat, maka pengeluaran negara akan semakin besar.
3. Income Multiplier
Pengganda pendapatan tentu dapat meningkat apabila pengeluaran juga meningkat. Contohnya pengeluaran untuk membeli bahan baku lebih banyak, maka hasil produksi akan meningkat. Sedangkan, biaya tetap (fixed cost) tidak akan berubah dan dapat meningkatkan pendapatan lebih besar dari sebelumnya.
4. Gross Value-Added Multiplier
Pengganda ini merupakan salah satu faktor berbentuk balas jasa dari faktor produksi yang dilakukan. Misalnya semakin meningkatnya konnsumsi, semakin meningkat pula produksi, maka semakin tinggi pendapatan negara.
5. Government Revenue Multiplier
Dengan meningkatnya pengeluaran suatu negara, tentu pemerintah akan berusaha meningkatkan pendapatannya. Upaya peningkatan pendapatan ini tidak hanya dilakukan dari satu sektor saja, walaupun pemerintah hanya menetapkan kebijakan di beberapa sektor.
Baca juga: Belajar Pajak: Mengenal Tax Exemption







