Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tercatat masih surplus pada April 2022. Ini berarti sudah empat bulan surplus terjadi secara berturut-turut.
Dalam konferensi pers APBN KITA, Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati mengatakan postur APBN sampai akhir April sangat surplus besar dilihat dari keseimbangan primer dan total balancenya.
Diinformasikan penerimaan negara mencapai Rp853,6 triliun sebesar 46,2% atau tumbuh mencapai 12,7%. Dalam perpajakan meliputi sebesar Rp676,1 triliun atau 44,8% dan tumbuh sebesar 15,3%, kemudian penerimaan negara bukan pajak atau PNBP mencapai Rp177,4 triliun sebesar 52,9% atau tumbuh mencapai 5%.
Belanja negara terealisasi sebesar Rp750,5 triliun atau sebesar 27,7%. Hal ini ditopang dengan belanja pemerintah pusat sebesar Rp508 triliun atau sebesar 26,1% yang meliputi belanja KL Rp253,6 triliun dan non-KL Rp254,4 triliun. Dimana komponen terbesar ialah subsidi energi sebesar Rp46,4 triliun dan kompensasi BBM dan listrik sebesar Rp18,5 triliun.
Sementara itu, transfer ke daerah dan dana desa terealisasi sebesar Rp242,4 triliun atau 31,5%. Realisasi ini tumbuh tipis mencapai 2,4%.
APBN pun mencatat terdapat surplus sebesar 0,58% terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) atau Rp103,1 triliun. Keseimbangan primer ini masih tercatat surplus sebesar Rp220,9 triliun. Pembiayaan utang ini mencapai Rp155,9 triliun.
Adapun, keseimbangan primer per April 2022 tercatat surplus Rp220,9 triliun atau lebih tinggi dari surplus keseimbangan primer per Maret 2022 yang sebesar Rp94,7 triliun. Ini juga lebih baik dibandingkan keseimbangan primer di April 2021 dengan defisit Rp36,5 triliun.
Menkeu pun menilai hal tersebut menjadi prestasi konsolidasi APBN yang sangat baik. APBN pun akan terus melaksanakan konsolidasi dan reformasi fiskal demi menjaga APBN yang sehat dan berkelanjutan. Kondisi surplus ini akan digunakan menjadi shock absorber dari guncangan yang terjadi, baik karena pandemi ataupun sekarang yang bergeser menjadi guncangan dari sisi komoditas.
Menkeu menyebutkan, instrumen APBN sebagai stabilizer atau shock absorber atau countercyclical. APBN selalu menjadi instrumen utama dan pertama yang diandalkan oleh rakyat dan perekonomian.
Lebih lanjut, dengan kinerja APBN 2022 per April 2022 ini, pembiayaan anggaran pun menurun tajam. Sri Mulyani pun hanya merealisasikan Rp142,7 triliun bagi pembiayaan anggaran atau anjlok mencapai 64,1%.







