Peringati Hari Bumi, Pajakku Sponsori Webinar Climate Communication Forum: Emphasizing The S (Women) in The ESG Communications

22 April 2022, dalam rangka memperingati hari bumi, CPROCOM disponsori oleh Pajakku melaksanakan Webinar Climate Communication Forum: Emphasizing The S (Women) in The ESG Communications dengan jumlah peserta sebanyak 66 orang. Acara webinar ini dihadiri oleh pembicata Herry Ginanjar, Linda Gurning, dan Emilia Bassar.

Dalam webinar ini dijelaskan perihal ESG dan Sustainability merupakan kemampuan humankind untuk dapat hidup di masa depan dengan cita-cita yang diinginkan seluruh masyarakat. Kini, ESG adalah framework yang digunakan oleh investor untuk melihat program ESG suatu perusahaan sebelum melakukan kerja sama bisnis. Tahun 2020, fenomena Covid-19 pun menjadi barometer sebuah perusahaan untuk dapat bertahan dengan menggunakan program ESGnya.

Kemudian, dijelaskan peran wanita dalam SDG yang memaparkan bagaimana perusahaan memperlakukan perempuan dengan kesetaraan. Penelitian survei pada seluruh perusahaan di Indonesia yang dilakukan oleh Deloitte menunjukkan hanya 43% remunerasi dan keuntungan yang seimbang antara perempuan dan laki-laki di Indonesia. Partisipasinya pun masih rendah terkait women in SDG di Indonesia yang hanya sejumlah 17%.

Dijelaskan pula, memulai perjalanan ESG penuh dengan tantangan bagi pelaku dan pakar, hal ini dikarenakan bidang ESG masih baru dan memiliki banyak ahli ESG serta faktor lainnya, seperti kesiapan, sumber daya, biaya konsultan, aturan atau standar, serta kompleksitasnya. Komponen ESG yang dibahas ialah environment, social, dan governance. Selanjutnya, Faktor utama terpenting yang dibutuhkan yaitu strategi ESG, indikator material, dan sektor industri yang berkaitan.

Kemudian, alat ukur ESG yang dapat digunakan ialah Global Reporting Initiative (GRI), CommunityMark, ISOs, SASB, B Corp Certification, Sustainanalytics, PROPER. Bagian hubungan publik pun diwajibkan untuk mengetahui kemampuan yang dibutuhkan dan selalu mengasah kemampuan ESG yang dimiliki. Peran hubungan publik dalam mendukung korporasi untuk ESG ialah peran persuasive, planning, deliverance, hingga targetted.

Linda Gurning selaku pembicara menjelaskan, bahwa terjadi perubahan iklim yang jika tidak ada perubahan sikap masyarakat, maka akan terjadi berbagai fenomena seperti timbulnya penyakit iklim, kekeringan air, sampai pencairan es di kutub. Ia menegaskan, bumi membutuhkan konservasi sebagai upaya pemeliharaan dan perlindungan sumber daya alam untuk bertahan di masa depan. Perempuan dinilai dapat menjadi aktor yang berperan besar dalam proses konservasi untuk mencegah krisis iklim lebih parah. Dimana perempuan rata-rata lebih peduli terhadap perubahan lingkungan hidup serta memiliki opini yang lebih kuat tentang krisis iklim.

Adaptasi perubahan iklim ini sangat responsif dengan kesetaraan gender, dimana diskusi perubahan iklim ini hanya mengandalkan laki-laki, sedangkan di sisi lain, perempuan adalah yang paling memperdulikan perubahan iklim dan terhubung secara langsung, terkait cara mengambil air untuk kebutuhan domsetik dan berkebun yang mengandalkan iklim. Rekomendasinya ialah pemerintah secara serius membuat peta jalan penerapan kebijakan gender, meningkatkan kapasitas pemahaman untuk gender, menyediakan SOP, dana khusus untuk kerentanan perempuan, dan mekanisme serta pendekatan proaktif untuk memastikan partisipasi keterlibatan perempuan dalam mengambil keputusan.

Emilia Bassar selaku pembicara juga menambahkan bahwa sustainability communication adalah strategi perusahaan untuk mengintegrasikan keseimbangan dengan operasional dan aktifitas perusahaan. Dimana strategi efektif komunikasi ESG ialah dengan cara mengkomunikasikan dengan stakeholder; transparan; komunikasikan dengan empati; membuat matriks ESG; dan alokasi dana. Strategi komunikasi ESG pun melalui tahapan penelitian, analisa situasi, tentukan objek, strategi komunikasi, dan diakhiri dengan evaluasi.