Pemerintah memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan mengalami kenaikan hingga akhir tahun 2026. Kebijakan ini ditujukan untuk menjaga daya beli masyarakat di tengah fluktuasi harga energi global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, menegaskan bahwa keputusan tersebut merupakan arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto.
Alasan Harga BBM Bersubsidi Tidak Naik
Secara umum, kebijakan ini didasarkan pada kondisi fiskal yang dinilai masih cukup kuat untuk menopang subsidi energi. Pemerintah melihat tekanan dari harga minyak global belum terlalu signifikan.
Beberapa poin utama yang menjadi pertimbangan, antara lain:
- Harga minyak masih terkendali
Harga Indonesian Crude Price (ICP) rata-rata masih berada di kisaran US$77 per barel. - Masih di bawah batas aman APBN
Pemerintah menyebut APBN masih aman selama ICP tidak melebihi US$100 per barel. - Selisih dengan asumsi APBN masih tipis
Asumsi ICP dalam APBN 2026 sebesar US$70 per barel, sehingga tekanan fiskal masih relatif terkendali.
Baca Juga: Pemerintah Siapkan Bea Keluar Batu Bara, Begini Rencana Skemanya
Realisasi Subsidi Energi Meningkat
Di sisi lain, pemerintah mencatat adanya lonjakan signifikan dalam belanja subsidi dan kompensasi energi pada awal tahun 2026. Hal ini menjadi indikator tingginya kebutuhan subsidi di masyarakat.
Adapun rinciannya:
- Realisasi subsidi melonjak tajam
Januari–Februari 2026 mencapai Rp51,5 triliun. - Kenaikan hingga 382,6% (yoy)
Dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. - Cerminkan tingginya kebutuhan energi bersubsidi
Konsumsi masyarakat masih tinggi di tengah kondisi ekonomi.
Pembatasan Pembelian BBM Bersubsidi
Untuk menjaga agar subsidi tetap tepat sasaran, pemerintah menerapkan pembatasan pembelian BBM bersubsidi melalui sistem digital. Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, menyampaikan bahwa kebijakan ini dilakukan melalui integrasi teknologi.
Ketentuan yang diberlakukan meliputi:
- Batas maksimal 50 liter per hari
Berlaku untuk setiap kendaraan pribadi. - Menggunakan sistem barcode
Melalui aplikasi MyPertamina. - Tidak berlaku untuk sektor vital
Kendaraan logistik dan angkutan umum tetap mendapat akses penuh.
Kebijakan ini disampaikan oleh Menteri Koordinator Bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, sebagai langkah menjaga subsidi tetap tepat sasaran.
Strategi Menjaga Stabilitas Ekonomi
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya pemerintah dalam menjaga keseimbangan antara perlindungan masyarakat dan keberlanjutan fiskal.
Dengan menahan harga BBM bersubsidi:
- Menahan laju inflasi
Harga energi yang stabil membantu menjaga harga barang dan jasa. - Melindungi daya beli masyarakat
Terutama kelompok masyarakat menengah ke bawah. - Menjaga keberlanjutan fiskal
Dengan kombinasi antara subsidi dan pembatasan konsumsi.
Baca Juga: Strategi Pemerintah Antisipasi Dampak Perang: Pajak Ekspor Batu Bara hingga Skema WFH
FAQ Seputar Harga BBM Bersubsidi 2026
1. Apakah harga BBM bersubsidi akan naik tahun 2026?
Tidak. Pemerintah melalui Bahlil Lahadalia memastikan harga BBM bersubsidi tidak akan naik hingga akhir tahun 2026.
2. Apa alasan pemerintah menahan harga BBM bersubsidi?
Pemerintah menilai kondisi fiskal masih aman karena harga Indonesian Crude Price (ICP) masih di bawah batas aman APBN, sehingga subsidi tetap dapat diberikan.
3. Berapa batas pembelian BBM bersubsidi per hari?
Pemerintah membatasi pembelian BBM bersubsidi maksimal 50 liter per kendaraan per hari untuk kendaraan pribadi.
4. Bagaimana cara membeli BBM bersubsidi saat ini?
Pembelian BBM bersubsidi dilakukan menggunakan sistem barcode melalui aplikasi MyPertamina.
5. Apakah semua kendaraan terkena pembatasan BBM bersubsidi?
Tidak. Pembatasan hanya berlaku untuk kendaraan pribadi. Kendaraan logistik dan angkutan umum tetap dapat membeli BBM bersubsidi tanpa batasan tersebut.







