Pasar Properti Hadapi Tantangan Selama Pandemi

Pasar properti merupakan salah satu pasar yang ikut merasakan efek dari pandemi COVID-19. Pasar properti sendiri menghadapi berbagai macam tantangan selama pandemi ini. Bahkan pemulihan yang tadinya diprediksi akan terjadi di awal tahun depan yaitu tahun 2022 terancam untuk meleset karena ketidakstabilan yang berlangsung saat ini. Harapan sempat muncul saat pemerintah mengeluarkan kebijakan diskon Pajak Pertambahan Nilai atau PPN pada kuartal I-2021, tetapi harapan tersebut kembali runtuh akibat lonjakan penyebaran COVID – 19 yang meningkat. 

Banyak dari para pengembang yang tidak percaya diri dengan kondisi saat ini yang mendorong revisi kembali proyeksi pasar properti, ungkap Senior Associate Director Research Colliers International Indonesia Ferry Salanto dalam Virtual Media Briefing Colliers di Jakarta, Rabu (7/7/2021). Ketidakpercayaan diri itu hadir dalam bentuk penundaan proyek, terutama proyek yang masih berlangsung proses konstruksinya. 

Proyek seperti perkantoran, hotel, pusat belanja, bahkan apartemen mengalami penjadwalan ulang karena proyeksi suplai yang berubah secara keseluruhan. Idealnya, ketika suplai menurun, permintaan akan meningkat sehingga menandai bergeraknya pasar properti. “Hal ini dalam kenyataannya tidak terjadi. Di satu sisi, suplai tidak terlalu banyak bertambah. Di sisi lain, permintaannya pun tidak bertumbuh,” ujar Ferry.

Direktur, Advisory Services, Colliers Colliers International Indonesia, Monica Koesnovagril menyoroti kebutuhan desain hunian atau ruko yang sehat menjadi pilihan konsumen. Selama pandemi, tren desain akan selalu mengalami perubahan. Pengembang harus peka dan jeli dalam menangkap dinamika pasar properti karena kebutuhan desain berhubungan dengan psikologi massa.

Wakil Ketua Umum DPP Real Estate Indonesia (REI) Bambang Ekajaya mengungkapkan “Tentunya, saat ini hal yang paling ditakutkan dalam jangka pendek adalah orang takut berkunjung ke lokasi properti, seperti rumah contoh atau kantor pemasaran. Berbeda dengan produk konsumen lainnya yang dapat dibeli secara online. Membeli properti pasti harus bisa melihat lokasi, melihat barulah percaya”.

Prospek pemulihan sektor properti sebenarnya sudah diprediksi tidak akan terjadi di tahun 2021 sejak sebelum penyebaran varian delta Covid-19. Hal ini disampaikan oleh Bagus Adikusumo, Senior Director, Officer Services, Colliers Colliers International Indonesia,“Permintaan pasar semakin menurun tahun 2020. Tahun 2021 nyatanya pandemi makin ada dan lebih ganas lagi sehingga pertumbuhan ekonomi tahun 2021 yang diharapkan tidak terjadi,”. 

Pelemahan ini diprediksi akan terus berlanjut sampai tahun 2022 dan 2023, menyebabkan “perang” harga antar-pengembang semakin tertekan. Diprediksi gedung-gedung dengan tingkat hunian rendah dibawah 50% akan menjadi  harga jual paling menarik.

 

Baca juga Jika Perusahaan Rugi, Apakah Masih Dikenakan Pajak Penghasilan?